KPK Minta Mahfud MD Buat Laporan Resmi Soal Dugaan Korupsi Kereta Cepat Whoosh, Formades: KPK Jangan Cuci Tangan!

- Redaksi

Sabtu, 18 Oktober 2025 - 08:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LAMPUNG, NGALAMUTAS.COM – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) secara terbuka menantang mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD untuk melaporkan secara resmi dugaan mark up dalam proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh). Sikap ini dinilai sejumlah pihak sebagai upaya cuci tangan dan lepas tanggung jawab dari lembaga anti-rasuah tersebut.

Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, dalam keterangan persnya di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Jumat (17/10/2025), menyatakan bahwa pihaknya baru bisa menindaklanjuti dugaan tindak pidana korupsi jika ada pengaduan masyarakat (Dumas) yang masuk secara formal. Ia menekankan bahwa laporan harus melalui saluran pengaduan resmi dan disertai informasi serta data awal agar proses penelaahan dan verifikasi bisa lebih akurat.

“KPK mengimbau bagi masyarakat yang mengetahui informasi awal ataupun data awal terkait adanya dugaan tindak pidana korupsi, maka silakan dapat menyampaikan aduan tersebut kepada KPK melalui saluran pengaduan masyarakat,” ujar Budi.

Pernyataan KPK ini langsung menuai reaksi keras dari Forum Membangun Desa (Formades). Ketua Umum Formades, Junaidi, menilai KPK bersikap tendensius dan seolah lupa akan tugas pokok dan fungsinya (Tupoksi) sebagai lembaga yang memiliki kewenangan proaktif dalam memberantas korupsi.

“Aneh, KPK agak tendensius ya, menanggapi pernyataan Mahfud MD ada apa dengan KPK? apa mereka lupa tupoksinya?” ungkap Junaidi di Bandar Lampung, Sabtu (18/10/2025).

Junaidi menjelaskan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang KPK, lembaga tersebut tidak harus menunggu laporan dari masyarakat untuk memulai penyelidikan kasus tindak pidana korupsi. KPK memiliki kewenangan untuk memulai penyelidikan berdasarkan temuan awal yang cukup.

“KPK memiliki kewenangan pro-aktif, yaitu dapat memulai penyelidikan sendiri berdasarkan temuan yang diperoleh dari tugas dan fungsinya dan tidak harus menunggu laporan,” tegas Junaidi.

Sebelumnya, dalam video yang diunggah di kanal YouTube Mahfud MD Official pada 14 Oktober 2025, Mahfud MD mengungkapkan adanya indikasi mark up besar-besaran dalam proyek kereta cepat Whoosh. Ia membandingkan biaya per kilometer kereta cepat di Indonesia yang mencapai 52 juta dolar AS dengan di China yang hanya 17-18 juta dolar AS.

“Ini siapa yang menaikkan? Uangnya ke mana? Naik tiga kali lipat. 17 juta dolar AS ya, dolar Amerika nih, bukan rupiah, per kilometernya menjadi 52 juta dolar AS di Indonesia. Nah itu mark up. Harus diteliti siapa yang dulu melakukan ini,” kata Mahfud.

Mahfud berharap KPK segera menelusuri dugaan penggelembungan anggaran tersebut agar publik mendapat kejelasan.

Sikap KPK yang terkesan defensif dan menantang Mahfud MD untuk membuat laporan resmi ini menimbulkan pertanyaan besar di kalangan masyarakat. Apakah KPK benar-benar serius dalam memberantas korupsi, atau justru berusaha melindungi pihak-pihak tertentu yang terlibat dalam proyek Kereta Cepat Whoosh? Publik menunggu langkah konkret dari KPK untuk membuktikan komitmennya dalam memberantas korupsi tanpa pandang bulu.

(LS)

Berita Terkait

Semarak HUT ke-43, Srikandi PP Kota Malang Turun Langsung Bersihkan Lingkungan dan Baksos 
Klenteng Eng An Kiong Malang Gelar Ritual She Jien Kiem Sin, Tebarkan Pesan Welas Asih Dewi Kwan Im
Rayakan HUT ke-67, Pemuda Pancasila Kota Malang Padukan Konvoi Kebangsaan dan Aksi Sosial
Festival Dolanan Anak di GOR Ken Arok, 17 Permainan Tradisional Dikenalkan kepada Anak PAUD
Kapolresta Malang Kota Edukasi Siswa SMAN 4 tentang Bahaya Cyber Crime, NAPZA, dan Bullying
Kapolresta Malang Kota Apresiasi Aksi Damai Aliansi Rakyat Bangkit Bersatu, Sampaikan Permohonan Maaf kepada Pengguna Jalan
Tekan Pengangguran, Ketua DPRD Kota Malang Desak Pendataan Tenaga Kerja Menyeluruh
Semeru Institute Soroti Karhutla dan Korupsi, Komitmen Pemerintahan Prabowo-Gibran Diuji

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 14:14 WIB

Semarak HUT ke-43, Srikandi PP Kota Malang Turun Langsung Bersihkan Lingkungan dan Baksos 

Kamis, 29 Oktober 2026 - 12:20 WIB

Klenteng Eng An Kiong Malang Gelar Ritual She Jien Kiem Sin, Tebarkan Pesan Welas Asih Dewi Kwan Im

Kamis, 29 Oktober 2026 - 06:45 WIB

Rayakan HUT ke-67, Pemuda Pancasila Kota Malang Padukan Konvoi Kebangsaan dan Aksi Sosial

Kamis, 29 Oktober 2026 - 05:58 WIB

Festival Dolanan Anak di GOR Ken Arok, 17 Permainan Tradisional Dikenalkan kepada Anak PAUD

Kamis, 29 Oktober 2026 - 04:55 WIB

Kapolresta Malang Kota Edukasi Siswa SMAN 4 tentang Bahaya Cyber Crime, NAPZA, dan Bullying

Kamis, 29 Oktober 2026 - 04:00 WIB

Tekan Pengangguran, Ketua DPRD Kota Malang Desak Pendataan Tenaga Kerja Menyeluruh

Kamis, 29 Oktober 2026 - 03:28 WIB

Semeru Institute Soroti Karhutla dan Korupsi, Komitmen Pemerintahan Prabowo-Gibran Diuji

Rabu, 28 Oktober 2026 - 14:46 WIB

Momentum Sumpah Pemuda 2026, SMKN 12 Malang Gelar Sosialisasi Hukum Season 2, Cegah Bullying Sejak Dini

Berita Terbaru