LUBUK ALUNG, NGALAMUTAS.COM – Satria Juhanda, atau Wanda, dikenal sebagai sosok pendiam di Lubuk Alung, Sumatera Barat Namun, di balik keheningannya, terpendam bara dendam yang membakar, mengubahnya menjadi mesin pembunuh yang mengerikan.
Pada tahun 2024, api dendam itu mulai berkobar. Wanda merasa dikhianati dan direnggut kebahagiaannya oleh Siska dan Adek. Sakit hati yang mendalam itu mendorongnya untuk melakukan tindakan keji, membunuh dan mengubur kedua wanita itu di sumur belakang rumahnya. Sumur itu menjadi saksi bisu bisikan dendam yang tak terucapkan. Setahun kemudian, Juni 2025, bara dendam itu kembali menyala. Septia, seorang mahasiswi, menjadi korban amarahnya yang tak terkendali. Wanda, dengan brutal, memutilasi tubuh Septia dan membuangnya ke Sungai Batang Anai, mencoba menghapus jejak dendam yang telah merasuki jiwanya.
Namun, kejahatan itu tak bisa disembunyikan selamanya. Polisi menemukan potongan tubuh Septia dan mengungkap identitas Wanda sebagai pelaku. Di bawah tekanan, Wanda mengakui perbuatannya, membuka tabir kelam tentang sumur maut yang selama ini menyimpan dendamnya yang membara.
Wanda kini menghadapi hukuman mati, konsekuensi dari dendam yang tak terkendali. Kasusnya meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban dan trauma bagi masyarakat Lubuk Alung. Sumur itu kini ditutup rapat, menjadi pengingat abadi tentang betapa dahsyatnya kekuatan dendam yang bisa mengubah manusia menjadi monster. Kisah Wanda adalah peringatan bahwa dendam yang dipendam bisa meledak menjadi tragedi yang tak terbayangkan.
(LS)














