Sumber Nyolo, Tangise Bumi lan Elinge Manungsa

- Redaksi

Senin, 8 Juni 2026 - 16:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi dan konsep tokoh pewayangan punakawan. Foto (Kim/ngalamutas.com)

i

Ilustrasi dan konsep tokoh pewayangan punakawan. Foto (Kim/ngalamutas.com)

KABUPATEN MALANG, NGALAMUTAS.COM – Di sebuah negeri bernama Nuswantoro, tanahnya subur, sawah menghijau, dan sungai mengalir jernih. Namun seiring waktu, manusia mulai lupa pada alam. Pohon ditebang tanpa ditanam kembali, sungai dijadikan tempat sampah, dan mata air mulai kehilangan kesegarannya.

Di kaki Gunung Arjuna terdapat sebuah mata air tua bernama Sumber Nyolo. Konon, mata air itu adalah urat nadi kehidupan negeri. Jika airnya mengering, maka kesejahteraan rakyat pun akan ikut lenyap.

Suatu pagi, Semar mengajak Gareng, Petruk, dan Bagong berkunjung ke Sumber Nyolo.

“Romo, kenapa kita jauh-jauh datang ke sini?” tanya Gareng.

Semar tersenyum.

“Le, manusia sering mencari emas ke gunung dan lautan, padahal harta paling berharga mengalir dari mata air seperti ini.”

Sesampainya di Sumber Nyolo, mereka melihat banyak daun kering, ranting tumbang, dan sampah berserakan.

Petruk menggelengkan kepala.

“Waduh Romo, manusia sekarang aneh. Airnya diminum, tapi sumbernya dilupakan.”

Bagong yang biasanya suka bercanda tiba-tiba terdiam.

“Kalau sumber ini rusak, apa yang terjadi?”

Semar mengambil segenggam air lalu membiarkannya menetes perlahan.

“Air yang hilang bisa dicari. Tapi kesadaran yang hilang lebih sulit ditemukan.”

Mendengar itu, para Punakawan mulai membersihkan kawasan mata air. Mereka mengangkat ranting-ranting tumbang, memungut sampah, lalu menanam bibit pohon di sekitar sumber.

Saat menanam pohon, Gareng bertanya,

“Romo, kapan pohon ini besar?”

“Mungkin bertahun-tahun.”

“Lalu kenapa kita menanamnya sekarang?”

Semar tersenyum bijak.

“Karena tidak semua kebaikan harus kita nikmati sendiri. Pohon ini adalah sedekah bagi anak cucu yang bahkan belum lahir.”

Hari itu semakin banyak warga datang membantu. Ada yang membersihkan sungai, menanam pohon kelor, memperbaiki jalan setapak, hingga melepaskan ikan ke aliran air.

Melihat semangat warga, Petruk berkata,

“Romo, ternyata menjaga alam itu seperti menjaga keluarga.”

“Benar, Truk,” jawab Semar. “Bumi bukan warisan leluhur yang boleh dihabiskan. Bumi adalah titipan anak cucu yang harus dijaga.”

Matahari mulai condong ke barat. Air Sumber Nyolo kembali terlihat jernih. Burung-burung berkicau di antara pepohonan yang baru ditanam.

Sebelum pulang, Semar menancapkan tongkatnya di dekat mata air dan berkata,

“Manusia sering mengira bencana datang karena murka langit. Padahal sering kali bencana lahir dari keserakahan manusia sendiri.”

Bagong mengangguk pelan.

“Jadi menjaga lingkungan bukan sekadar membersihkan sampah?”

“Bukan, Gong. Menjaga lingkungan adalah menjaga akal agar tidak serakah, menjaga hati agar tetap peduli, dan menjaga perilaku agar selaras dengan alam.”

Sejak saat itu, warga Amartaloka menjadikan Sumber Nyolo sebagai tempat belajar kehidupan. Mereka memahami bahwa menanam pohon bukan sekadar menanam batang, melainkan menanam harapan. Membersihkan sungai bukan sekadar mengangkat sampah, melainkan membersihkan kesadaran.

Dan Semar selalu mengingatkan:

“Nalika manungsa eling marang alam, alam bakal maringi urip. Nanging nalika manungsa mung mikir bathi, alam bakal menehi piwulang.”

(Ketika manusia ingat kepada alam, alam akan memberi kehidupan. Namun ketika manusia hanya mengejar keuntungan, alam akan memberi pelajaran.)

 

Oleh : Doni Kurniawan (Kim)

Founder Ngalamutas.com

Loading

Berita Terkait

Rasa Haru, Anak Seorang Buruh Kuli Bangunan Dari Blora Dilantik Prabowo Menjadi Perwira
Rutin Tasmi’ Al-Qur’an Tiap Jum’at Pahing, Pesantren Nurul Falah Cetak Generasi Qur’ani Berjiwa Wirausaha
Siapa pun Terpilih, Ayomi Semua, Harus Bergandengan Tangan Membangun Desa di Jateng
Andika Media Apresiasi Keterbukaan Informasi Polres Kediri di Masa Kepemimpinan AKBP Bramastyo
Menangis di Hadapan Dewan, Pasutri Pedagang Bensin Eceran Way Kanan Memohon Keadilan
Aksi Berulang Kali Cabuli Keponakan Sendiri dengan Ancaman Sajam, Paman di Blitar Kini Tersangka
Permudah Akses Warga, Kapten Inf. Puryanto Resmikan Jembatan Gantung Perintis Garuda Yang Ada di Blora
Polres Blora Bongkar Praktik Pengoplosan Gas LPG Bersubsidi di Kunduran, Ratusan Tabung Disita

Berita Terkait

Jumat, 24 Juli 2026 - 07:48 WIB

Rasa Haru, Anak Seorang Buruh Kuli Bangunan Dari Blora Dilantik Prabowo Menjadi Perwira

Jumat, 24 Juli 2026 - 03:48 WIB

Rutin Tasmi’ Al-Qur’an Tiap Jum’at Pahing, Pesantren Nurul Falah Cetak Generasi Qur’ani Berjiwa Wirausaha

Jumat, 24 Juli 2026 - 02:43 WIB

Siapa pun Terpilih, Ayomi Semua, Harus Bergandengan Tangan Membangun Desa di Jateng

Jumat, 24 Juli 2026 - 01:15 WIB

Andika Media Apresiasi Keterbukaan Informasi Polres Kediri di Masa Kepemimpinan AKBP Bramastyo

Jumat, 24 Juli 2026 - 01:12 WIB

Menangis di Hadapan Dewan, Pasutri Pedagang Bensin Eceran Way Kanan Memohon Keadilan

Kamis, 23 Juli 2026 - 08:01 WIB

Aksi Berulang Kali Cabuli Keponakan Sendiri dengan Ancaman Sajam, Paman di Blitar Kini Tersangka

Kamis, 23 Juli 2026 - 07:50 WIB

Permudah Akses Warga, Kapten Inf. Puryanto Resmikan Jembatan Gantung Perintis Garuda Yang Ada di Blora

Kamis, 23 Juli 2026 - 02:21 WIB

Polres Blora Bongkar Praktik Pengoplosan Gas LPG Bersubsidi di Kunduran, Ratusan Tabung Disita

Berita Terbaru