KOTA MALANG (JATIM), NGALAMUTAS.COM – Konon, ketika angin berembus dari tanah Malang, Semar mengajak Gareng, Petruk, dan Bagong turun dari kahyangan. Bukan untuk menyaksikan perang Baratayuda, bukan pula menemani para ksatria beradu kesaktian. Mereka datang karena mendengar suara tawa yang menggema dari sebuah meja domino.
“Ki Lurah, mengapa kita ke sini?” tanya Gareng.
Semar tersenyum. “Karena kadang-kadang, watak manusia lebih mudah terbaca saat bermain daripada saat berpidato,” ujar Semar
Mereka pun menyaksikan puluhan orang duduk berhadapan. Tidak ada keris yang terhunus. Tidak ada tombak yang diacungkan. Yang ada hanyalah keping-keping domino, senyum, tawa, dan strategi.
Petruk terkekeh. “Lho, ini perang tanpa amarah,” tanyanya.
Semar mengangguk pelan.
“Benar, Truk. Mereka sedang belajar bahwa kemenangan bukan hanya soal mengalahkan lawan, tetapi menghormati teman bermain,” jawab Semar.
Bagong yang sedari tadi memperhatikan lalu berseru, “Kalau begini terus, orang-orang tak sempat bertengkar di media sosial,” celotehnya.
Semua tertawa.
Gareng menimpali, “Domino ternyata mengajarkan berpikir sebelum melangkah. Sama seperti hidup. Salah meletakkan satu keping saja, semuanya bisa berubah,” tegasnya.
Semar memandang jauh ke arah para peserta.
“Inilah gotong royong dalam bentuk yang sederhana. Duduk bersama, berbicara, menyusun strategi, saling menghormati aturan. Bangsa ini dibangun bukan hanya oleh orang-orang yang pandai berpidato, tetapi juga oleh mereka yang mampu menjaga kebersamaan,” imbuh Semar.
Petruk mengangkat satu keping domino.
“Benda kecil ini murah, Ki Lurah,” tanya Petruk.
“Tetapi nilainya besar,” jawab Semar.
“Karena yang mahal bukan dominonya, melainkan persaudaraan yang lahir di sekeliling meja,” lanjutnya.
Bagong mengangguk cepat.
“Kalau begitu, meja domino lebih baik daripada meja yang dipakai orang saling menghujat,” tanyanya.
Semar tersenyum lagi.
“Setiap zaman memiliki tantangannya sendiri. Dahulu manusia mudah terpecah karena perang. Kini manusia mudah terpecah karena jarinya sendiri. Maka permainan yang membuat orang saling bertatap muka adalah obat yang patut dirawat,” jelas Semar.
Langit mulai meredup.
Sebelum kembali ke kahyangan, Semar berpesan kepada ketiga anaknya.
“Ingatlah, Gareng… kehati-hatian membuat permainan tetap indah. Petruk… optimisme membuat orang berani bertanding. Bagong… kejujuran menjaga sportivitas. Jika ketiganya hidup dalam diri manusia, maka setiap meja domino bukan sekadar tempat bermain, melainkan sekolah kehidupan,” ungkapnya.
Keempat Punakawan pun berlalu.
Di belakang mereka, suara keping-keping domino masih terdengar beradu pelan. Bukan bunyi perselisihan, melainkan irama persaudaraan yang mengingatkan bahwa kekuatan rakyat selalu lahir dari kebersamaan, sekecil apa pun ruang tempat mereka berkumpul. (Kim)
![]()







