Membaca “Bhakti Garuda” di Candi Kidal: Arkeolog Dwi Cahyono Kupas Ikonografi Ibu Agung Nusantara

- Redaksi

Selasa, 23 Desember 2025 - 20:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KABUPATEN MALANG, NGALAMUTAS.COM – Peringatan Hari Ibu pada 21 Desember 2025 di Malang berlangsung sarat makna. Melalui kolaborasi apik antara Patembayan Citralekha, Kampung Budaya Polowijen (KBP), dan Museum Panji, sebuah perhelatan reflektif digelar untuk membangkitkan kembali nilai-nilai kebhaktian kepada sosok ibu melalui kacamata sejarah dan arkeologi.

​Bertajuk “Garuda Amundhi Bunda Winata: Kebhaktian Putra kepada Uma dan Tokoh Ikonografis Pratnjaparamita, Ken Dedes Wanita Emas Dari Panawijen”, acara ini dipandu langsung oleh Arkeolog kenamaan Malang, M. Dwi Cahyono.

​Sesi pertama dimulai di pelataran Candi Kidal, Tumpang. Di bawah langit yang khidmat, para peserta yang terdiri dari komunitas pelestari budaya seperti Perempuan Bersanggul Nusantara hingga Ketua Presidium Dewan Kesenian Jatim, diajak mengelilingi candi berlawanan arah jarum jam (Prasawya).

​M. Dwi Cahyono memaparkan bahwa relief Garudeya pada kaki Candi Kidal bukan sekadar hiasan batu, melainkan manifesto kasih sayang seorang anak.

​”Nilai kebhaktian tersebut tercermin kuat dalam kisah Garuda yang berjuang membebaskan ibunya, Dewi Winata, dari perbudakan. Garuda rela bertaruh nyawa mencari Tirtha Amerta demi kemerdekaan sang bunda. Ini adalah teladan universal tentang bhakti yang telah tertanam sejak era Singhasari,” jelas Dwi Cahyono di hadapan peserta.

​Acara di Candi Kidal semakin hidup dengan arahan Ki Demang (Pengelola KBP) yang menampilkan deretan tari tradisional seperti Beskalan Putri Malang dan Tari Sekarsari. Puncaknya, 30 ibu dan remaja putri menari Gambyong Mari Kangen secara kolosal di halaman situs suci tersebut.

​Kegiatan kemudian bergeser ke Museum Panji, di mana diskusi mendalam mengenai sisi ikonografis perempuan Jawa digelar. Sebagai Ketua Asosiasi Museum Indonesia (AMI) Daerah Jawa Timur, Dwi Cahyono membedah sosok Ken Dedes melalui Arca Pratnjaparamita.

​Dwi Cahyono menegaskan bahwa Ken Dedes bukan sekadar permaisuri, melainkan “Wanita Emas” dari Panawijen yang rahimnya melahirkan raja-raja besar di tanah Jawa, mulai dari Dinasti Singhasari hingga Majapahit.

​”Ken Dedes adalah ibu peradaban, simbol kesuburan, dan legitimasi kekuasaan. Beliau layak diposisikan sebagai ikon Hari Ibu di Malang Raya. Figur beliau adalah inspirasi bagi perempuan masa kini sebagai sumber kebijaksanaan dan kekuatan masa depan peradaban,” paparnya dalam diskusi yang dipandu oleh Hendri Nur Cahyo (Ketua Komunitas Brang Wetan).

​Di akhir acara, suasana berubah menjadi haru ketika Dwi Cahyono berbagi pengalaman pribadinya dalam menghormati sosok ibu. Dalam tradisi Jawa, ia selalu memposisikan ibu sebagai pepundhen (yang dijunjung tinggi).

​”Saya selalu membasuh kaki ibu saya setiap menjelang Hari Ibu. Dalam keyakinan kita, restu ibu memiliki kekuatan spiritual yang luar biasa bagi kehidupan seorang anak. Ibu adalah sosok yang harus dimuliakan (dipundhi),” tuturnya dengan nada emosional.

​Rangkaian acara ditutup dengan doa bersama dan penampilan wayang kulit oleh dalang muda, Claudio Akbar. Suara suluk dan tembang Macapat Kidung Rumekso Ing Wengi menggema di Tobong Museum Panji, memberikan perlindungan spiritual sekaligus mengunci komitmen para pelestari budaya untuk terus menjaga fondasi moral bangsa melalui kesadaran sejarah. (Kim).

Loading

Berita Terkait

Kebakaran Melanda Instalasi Gizi RSSA Malang: Tak Ada Korban Jiwa, Layanan Pasien Tetap Terjamin
Musibah di Tengah Karnaval: Sebuah Penantian yang Tak Berujung Pulang
Aktivis Blora Ultimatum SK Menteri ESDM soal Gunung Ungaran: “Stop Proyek Perusak Alam, Jangan Korbankan Gunung demi Energi!
Polda Jateng; Keselamatan Anak Tanggung Jawab Kita Bersama, Orang Tua Diminta Tingkatkan Pengawasan
Dugaan Penahanan Dana Calon Siswa Senilai Rp22,5 Juta Tanpa Layanan Pendidikan
Pastikan Tidak Membawa Senpi dan Barang Berbahaya, Saat Apel, Bid Propam Polda Jateng Cek Semua Personel Yang Layani Penyampaian Pendapat Di Tugu Muda
Breaking News. Kebakaran Besar Melanda Pabrik Bingkai di Perbatasan Jakarta Timur–Bekasi, Asap Pekat Membubung Tinggi
Gedung Bapenda DKI Jakarta Terbakar di Tengah Malam, 20 Unit Pemadam dan 100 Personel Dikerahkan

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 10:25 WIB

Kebakaran Melanda Instalasi Gizi RSSA Malang: Tak Ada Korban Jiwa, Layanan Pasien Tetap Terjamin

Minggu, 30 Agustus 2026 - 22:38 WIB

Musibah di Tengah Karnaval: Sebuah Penantian yang Tak Berujung Pulang

Minggu, 30 Agustus 2026 - 21:33 WIB

Aktivis Blora Ultimatum SK Menteri ESDM soal Gunung Ungaran: “Stop Proyek Perusak Alam, Jangan Korbankan Gunung demi Energi!

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 14:47 WIB

Polda Jateng; Keselamatan Anak Tanggung Jawab Kita Bersama, Orang Tua Diminta Tingkatkan Pengawasan

Rabu, 26 Agustus 2026 - 22:30 WIB

Dugaan Penahanan Dana Calon Siswa Senilai Rp22,5 Juta Tanpa Layanan Pendidikan

Rabu, 26 Agustus 2026 - 22:06 WIB

Pastikan Tidak Membawa Senpi dan Barang Berbahaya, Saat Apel, Bid Propam Polda Jateng Cek Semua Personel Yang Layani Penyampaian Pendapat Di Tugu Muda

Selasa, 11 Agustus 2026 - 21:10 WIB

Breaking News. Kebakaran Besar Melanda Pabrik Bingkai di Perbatasan Jakarta Timur–Bekasi, Asap Pekat Membubung Tinggi

Jumat, 7 Agustus 2026 - 17:22 WIB

Gedung Bapenda DKI Jakarta Terbakar di Tengah Malam, 20 Unit Pemadam dan 100 Personel Dikerahkan

Berita Terbaru