KOTA MALANG-NGALAMUTAS.COM-Klenteng Eng An Kiong, Kota Malang, menggelar ritual keagamaan She Jien Kiem Sin melalui rangkaian acara 108 Guan Shi Yin Pu Sa Chu Jia Da Fa Hui pada 29 Oktober hingga 1 November 2026. Kegiatan ini diikuti umat Buddha dari berbagai daerah di Indonesia sebagai bentuk penghormatan kepada Dewi Kwan Im sekaligus momentum untuk meneladani nilai-nilai welas asih, kebijaksanaan, dan kepedulian terhadap sesama.
Ketua Yayasan Klenteng Eng An Kiong, Rudi Phan, menjelaskan bahwa ritual tersebut memiliki makna spiritual mendalam bagi umat. Selain menjadi bagian dari tradisi keagamaan, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk mengajak masyarakat menerapkan nilai-nilai kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari.
“Dewi Kwan Im itu adalah dewi yang welas kasih. Jadi, kita mengadakan ini dengan mengajak masyarakat supaya meniru teladan dari Dewi Kwan Im, mana yang welas kasih,” ujar Rudi Phan saat ditemui di Klenteng Eng An Kiong, Kamis (29/10/2026).
Ritual She Jien Kiem Sin di Klenteng Eng An Kiong berlangsung selama empat hari, dengan melibatkan umat serta rupang atau perwujudan patung dewi Kwan Im yang dibawa dari sejumlah kelenteng di berbagai daerah.
Rudi Phan menyebutkan, rupang tersebut berasal dari berbagai kota, di antaranya Semarang, Jepara, Indramayu, dan Tangerang. Kehadiran rupang-rupang itu menjadi bagian dari rangkaian prosesi keagamaan yang diselenggarakan di Klenteng Eng An Kiong sebelum nantinya dikembalikan ke tempat asal masing-masing.
Dalam kegiatan tersebut, tercatat sekitar 108 hingga lebih dari 120 rupang turut hadir mengikuti rangkaian ritual. Partisipasi lintas daerah ini mencerminkan kuatnya ikatan spiritual dan tradisi yang terus dijaga oleh umat.
Menurut Rudi, perayaan She Jien Kiem Sin memiliki tiga tahapan utama, yakni memperingati hari lahir Dewi Kwan Im, pencapaian kesempurnaan, serta pelepasan kehidupan duniawi yang dimaknai sebagai bagian dari perjalanan spiritual Dewi Kwan Im.
Ia menambahkan, peringatan yang berkaitan dengan Dewi Kwan Im secara tradisional dilaksanakan tiga kali dalam setahun berdasarkan kalender lunar atau kalender Tionghoa, yakni pada bulan kedua, bulan keenam, dan bulan kesembilan, khususnya tanggal 19.
Salah satu rangkaian utama dalam kegiatan tersebut adalah 108 Guan Shi Yin Pu Sa Chu Jia Da Fa Hui, yakni pujabakti agung untuk memperingati pelepasan kehidupan duniawi Dewi Guan Yin atau Bodhisattva Avalokitesvara.
Dalam tradisi Buddhisme Mahayana, angka 108 memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan upaya membersihkan kekotoran batin, mengurangi kemelekatan, serta memperkuat praktik spiritual.
Melalui pujabakti dan pelafalan nama suci Guan Shi Yin Pu Sa, umat diajak memperdalam keyakinan sekaligus mengembangkan kebijaksanaan dan welas asih. Nilai-nilai tersebut diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan ritual, tetapi diwujudkan melalui sikap sabar, tutur kata yang baik, serta tindakan nyata membantu orang lain.
Rangkaian kegiatan keagamaan ini juga menjadi ruang bagi umat untuk memperkuat hubungan spiritual, menjaga kesinambungan tradisi, dan membangun kebersamaan di tengah keberagaman masyarakat.
Lebih jauh, Rudi Phan menegaskan bahwa pesan utama dalam perayaan ini bersifat universal. Nilai welas asih yang diteladankan Dewi Kwan Im dapat menjadi pedoman bagi setiap orang untuk membangun hubungan sosial yang harmonis tanpa membedakan latar belakang.
Ia berharap, melalui penyelenggaraan ritual tersebut, masyarakat semakin memahami pentingnya mengamalkan tuntunan agama dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam menjaga kerukunan, menumbuhkan kepedulian, dan mengurangi keterikatan terhadap hal-hal duniawi.
“Harapannya ke depan supaya kita welas kasih sesama manusia, kita belajar tuntunan dari agama, dan mengucap welas kasih serta meninggalkan keterikatan,” pungkasnya.
Penyelenggaraan ritual She Jien Kiem Sin di Klenteng Eng An Kiong diharapkan tidak hanya memperkuat kehidupan spiritual umat Buddha, tetapi juga menyebarkan pesan kemanusiaan yang relevan bagi masyarakat luas. Melalui keteladanan Dewi Kwan Im, nilai kasih sayang, kepedulian, dan penghormatan terhadap sesama diharapkan terus tumbuh dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Pewarta : Silla
Editor : Kim
![]()







