KABUPATEN MALANG, NGALAMUTAS.COM – Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda dan momentum refleksi Hari Santri, DPC GMNI Kabupaten Malang menggelar Seminar Kebangsaan dengan tema “Merawat Spirit Santri dan Semangat Pemuda: Meneguhkan Persatuan untuk Indonesia Berdaulat” di Aula Kediaman Drs. Peni Suparto, M.A.P., Jatirejoyoso, Kepanjen, Kabupaten Malang, Selasa (28/10/2025).
Kegiatan ini menjadi wadah penting bagi generasi muda dan kaum santri untuk memperkuat nilai-nilai nasionalisme di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi.
Hadir sebagai narasumber utama, KH. Thoriq bin Ziyad, S.Pd.I., Inisiator Hari Santri Nasional, Presiden Direktur Kantor Hukum Yustitia Indonesia (KHYI) Dwi Indrotito Cahyono, S.H., M.M., dan Mantan Wali Kota Malang, Peni Suparto, M.A.P.
Dikesempatan ini, KH. Thoriq bin Ziyad memaparkan tentang sejarah penyebaran Islam di Nusantara yang berlangsung secara damai dan berperadaban.
Ia juga menjelaskan bahwa kerajaan Demak Bintoro menjadi tonggak awal sistem Islam yang dipilih dan diterima masyarakat Jawa.
Kemudian disinggung sosok Sunan Giri yang memiliki peran besar dalam pendidikan Islam di masa awal Nusantara.
“Kerajaan Demak Bintoro menjadi tonggak awal sistem Islam yang dipilih dan diterima masyarakat Jawa. Dari sinilah muncul perwalian, seperti Wali Songo, yang menyebarkan Islam bukan lewat peperangan, tapi lewat proses sosial yang penuh kebijaksanaan,” tutur Gus Thoriq sapaan akrabnya.
Gus Thoriq menekankan pentingnya nilai sejarah dan kebudayaan dalam membangun bangsa. Ia menuturkan kisah bagaimana Bung Karno menunjukkan kecerdasan diplomasi spiritualnya dengan menolak undangan ke Rusia hingga ditemukan makam Imam Bukhari di Uzbekistan.
“Bung Karno menunjukkan betapa pentingnya warisan spiritual Islam bagi bangsa Indonesia. Ia tidak hanya berpikir politik, tapi juga menjaga hubungan dengan dunia Islam lewat nilai sejarah dan kebudayaan,” jelasnya.
Ditekankan bahwa santri dan pemuda memiliki peran strategis dalam menjaga moral, kebudayaan, dan kedaulatan bangsa.
Selain itu, Ia mengajak seluruh generasi muda untuk meneladani nilai perjuangan para ulama dan leluhur, serta tetap berpegang pada prinsip keislaman dan kebangsaan di tengah gempuran budaya global.
“Santri dan pemuda hari ini harus sadar bahwa perjuangan belum selesai. Penjajahan bukan lagi lewat senjata, tapi lewat pikiran, budaya, dan teknologi. Maka kita harus menyiapkan diri dengan ilmu, iman, dan semangat kebangsaan,” pungkas Gus Thoriq. (Kim).














