MADIUN, NGALAMUTAS.COM – Kepergian Andie Kristiantono, atau yang dengan penuh kasih dikenal sebagai Andie Peci, menyisakan kesedihan yang mendalam tak hanya bagi keluarga terdekat, namun juga bagi ribuan rekan seperjuangannya di tribun pendukung Persebaya Surabaya. Sosok yang selama puluhan tahun menjadi salah satu pilar utama komunitas Bonek ini kini telah berpulang, meninggalkan jejak kebaikan dan dedikasi yang tak akan lekang oleh waktu.
Salah satu yang paling merasakan kehilangan adalah Heri Agus Supriyanto, atau yang akrab disapa Cak Tessy, dirigen Tribun Kidul Surabaya. Tak segan-segan ia meninggalkan pekerjaannya seketika demi memberikan penghormatan terakhir kepada sahabatnya, dengan menempuh perjalanan dari Surabaya menuju Madiun pada Jumat (10/7/2026).
Cak Tessy hadir sepenuh hati, ikut mengiringi jenazah mulai dari rumah duka hingga prosesi pemakaman selesai dan tanah pertama menutup liang lahat. Sebuah bentuk penghormatan tulus bagi sosok yang telah ia kenal sejak tahun 2010.
“Almarhum adalah orang yang sungguh baik. Saya mulai dekat dengannya sejak 2010 bersama Mas Sinyo. Meski saat itu baru berkenalan, beliau begitu ramah dan mudah diajak berbicara. Hingga hari ini saya tak pernah melupakan kebaikannya. Kami pun kerap berkomunikasi lewat pesan singkat maupun telepon,” ujar Cak Tessy dengan mata berkaca-kaca, menahan haru yang mendalam.
Ia masih menyimpan jelas percakapan terakhirnya dengan Andie Peci, yang terjadi tak lama setelah sahabatnya itu keluar dari rumah sakit. Saat itu, niat hatinya ingin segera menjenguk belum sempat terwujud.
“Saya sempat berpesan, ‘Cak, sepurane belum sempat menjenguk sampeyan di rumah sakit. Insyaallah nanti saya berkunjung ke rumah.’ Beliau menjawab tenang, ‘Wis To, sampeyan juga sehat-sehat.’ Saya pun membalas, ‘Sampeyan juga sehat selalu Cak, semoga lekas pulih.’ Tanpa disangka, itulah kata-kata terakhir yang kami sampaikan satu sama lain,” kenangnya dengan suara bergetar.

Bagi Cak Tessy, Andie Peci bukan sekadar rekan di tribun, melainkan sahabat sejati yang memiliki dedikasi luar biasa untuk Persebaya. Salah satu kenangan yang paling membekas di hatinya adalah masa-masa sulit saat persepakbolaan Indonesia, khususnya Persebaya, dilanda masa dualisme. Bersama Andie Peci dan almarhum Hamim, ia berjuang sekuat tenaga demi nama besar tim kebanggaan warga Surabaya.
“Momen yang tak akan pernah saya lupakan adalah saat kami melakukan aksi damai di Jakarta di tengah masa dualisme itu. Saya, Mas Andy, dan Mas Hamim berjuang bahu-membahu di sana. Mas Andy adalah orang yang paling tulus. Pertemuan terakhir kami pun belum lama berlalu, saat kami sama-sama mengawal Persebaya bertanding di Yogyakarta,” ungkapnya.
Kabar berpulangnya Andie Peci diterima Cak Tessy tepat pukul 11.20 WIB saat ia sedang menjalankan tugas di tempat kerja. Tanpa menunda, ia segera meminta izin kepada pimpinan untuk berangkat ke Madiun.
“Saya baru saja mulai bekerja, tiba-tiba mendapat kabar Mas Andy telah berpulang ke rahmatullah. Saya langsung menemui Mas Roy, Pak Manajer Umum, dan Mas Rio untuk meminta izin melayat. Alhamdulillah permohonan saya dikabulkan, dan saya pun segera berangkat ke Madiun,” tuturnya.
Sesampainya di rumah duka, Cak Tessy berkesempatan menatap wajah tenang Andie Peci untuk terakhir kalinya sebelum jenazah dikebumikan. Ia pun tak melepaskan kesempatan untuk ikut serta hingga ke liang lahat, mengantar sahabat seperjuangannya menuju tempat peristirahatan yang abadi.
Andie Peci mungkin telah tiada, namun semangat persaudaraan, ketulusan hati, dan cinta yang tak tergoyahkan terhadap Persebaya yang ia tanamkan akan terus hidup di hati setiap Bonek, selamanya.
LS – Ngalamutas.com
![]()







