KABUPATEN MALANG (JATIM), NGALAMUTAS.COM – Ribuan masyarakat Desa Wadung, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, memadati halaman Balai Desa Wadung pada Rabu (17/6/2026) malam dalam rangka puncak peringatan Selamatan Desa atau Bersih Desa Tahun 2026. Kegiatan yang menjadi agenda tahunan tersebut dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang membawakan lakon “Wahyu Purboningrat” oleh dalang Ki Nur Hadi Matadi Putro dari Malang.
Acara yang dimulai pukul 20.00 WIB itu berlangsung khidmat sekaligus meriah. Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Malang Nurcahyo, SH., M.Hum., Camat Pakisaji Taufik Nurahman, S.STP., M.AP., unsur Forkopimcam, Bhabinkamtibmas Desa Wadung, Babinsa Desa Wadung, kepala desa dan perangkat desa se-Kecamatan Pakisaji, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta warga Desa Wadung.
Camat Pakisaji, Taufik Nurahman, dalam sambutannya menyampaikan bahwa tradisi Bersih Desa bukan sekadar ritual budaya, melainkan sarana mempererat hubungan antara pemerintah desa dan masyarakat.
“Bersih Desa ini bukan hanya ritual, tetapi juga ruang silaturahmi antara pemerintah, perangkat desa, dan masyarakat. Semoga membawa berkah untuk Desa Wadung,” ujarnya.
Menurutnya, tradisi yang diwariskan secara turun-temurun tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga identitas budaya masyarakat sekaligus memperkuat kebersamaan warga di tengah perkembangan zaman.
Sementara itu, Kepala Desa Wadung, Wahyudin, menegaskan bahwa Bersih Desa 2026 diharapkan menjadi momentum mempererat persatuan masyarakat sekaligus memperkuat pelayanan pemerintah desa kepada masyarakat.
“Semoga menjadi momentum silaturahmi yang semakin kuat di Desa Wadung. Kita semua mendoakan agar masyarakat tetap guyub rukun, pemerintah desa terus berinovasi dan menjadi pelayan yang baik bagi masyarakat sehingga terwujud tata tentrem karta raharja, gemah ripah loh jinawi, jayabaya wijayanti. Amin,” ungkap Wahyudin.
Ia menjelaskan, Bersih Desa merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki, keamanan, dan keberkahan yang diterima masyarakat selama setahun terakhir.
“Tradisi ini juga menjadi sarana melestarikan budaya Jawa yang adiluhung sekaligus memperkuat semangat nasionalisme, keberagaman, dan nilai-nilai gotong royong di tengah kehidupan masyarakat,” tambahnya.
Menurut Wahyudin, pagelaran wayang kulit dipilih sebagai hiburan utama karena memiliki nilai filosofi yang tinggi dan sarat pesan moral bagi generasi muda.
“Wayang bukan sekadar seni. Ia adalah cerminan jiwa, pelajaran kehidupan, dan perjalanan menuju nilai-nilai luhur,” tutur Wahyudin.
Dalam pertunjukan tersebut, Ki Nur Hadi Matadi Putro membawakan lakon “Wahyu Purboningrat”, sebuah cerita yang mengandung pesan tentang kepemimpinan, kebijaksanaan, amanah, serta pentingnya menjaga harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.
Tidak hanya menjadi hiburan rakyat, pagelaran wayang kulit juga menjadi media pendidikan karakter yang mengajarkan nilai moral, etika, dan kebajikan yang relevan dengan kehidupan modern.
Sebelum pagelaran wayang kulit dimulai, rangkaian Bersih Desa Wadung juga diisi kegiatan pengobatan alternatif yang melibatkan sejumlah tokoh spiritual. Kegiatan tersebut mendapat antusiasme masyarakat sebagai bagian dari tradisi kearifan lokal yang telah berlangsung secara turun-temurun.
Kesuksesan penyelenggaraan Bersih Desa Wadung 2026 tidak terlepas dari sinergi berbagai elemen masyarakat. Unsur TNI, Polri, Banser, Linmas, Karang Taruna, perangkat desa, panitia pelaksana, dan relawan turut berperan aktif menjaga keamanan serta kelancaran acara hingga berlangsung tertib dan kondusif.
Masyarakat yang hadir tampak menikmati setiap rangkaian kegiatan. Suasana kebersamaan, gotong royong, dan kecintaan terhadap budaya lokal begitu terasa sepanjang acara berlangsung.
Melalui penyelenggaraan Bersih Desa tahun ini, Pemerintah Desa Wadung berharap tradisi leluhur tetap lestari di tengah arus modernisasi serta menjadi sarana memperkuat persatuan dan keharmonisan masyarakat.
Dengan semangat kebersamaan dan pelestarian budaya, Bersih Desa Wadung 2026 menjadi bukti bahwa tradisi lokal masih memiliki tempat penting sebagai perekat sosial sekaligus warisan budaya yang perlu dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.
(Riaman)
![]()







