BANDA ACEH, NGALAMUTAS.COM – Di balik citra Kota Serambi Mekkah yang kental dengan nilai-nilai syariat dan kehidupan religius, tersimpan sebuah realitas sosial yang perlahan tumbuh dan menjadi fenomena tersendiri. Praktik nikah siri serta hubungan tersembunyi antara perempuan muda, sebagian besar di antaranya mahasiswi, dengan pria berstatus mapan dan telah beristri, kini menjadi fakta yang semakin sulit dibantah. Berbagai faktor, mulai dari kebutuhan ekonomi, keinginan bergaya hidup mewah, hingga tekanan gaya hidup di media sosial, disebut-sebut menjadi pemicu utama menjamurnya pola hubungan kontroversial ini.
Wartawan media ini, Azhari Usman, menelusuri lebih dalam jejak dan latar belakang fenomena yang selama ini hanya menjadi bisik-bisik di pergaulan masyarakat kota ini.
Pukul 23.00 WIB malam, hiruk-pikuk kehidupan di kawasan Jalan T. Panglima Nyak Makam, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh, masih terasa begitu kental. Deretan kafe dan kedai kopi modern tetap dipadati pengunjung; anak-anak muda duduk berkelompok, tenggelam dalam obrolan, iringan musik, dan gemerlap cahaya lampu kota. Kendaraan berlalu-lalang memenuhi jalan raya, menciptakan suasana malam yang tampak begitu biasa. Namun, di sudut-sudut kota yang seolah saleh ini, bergerak kehidupan lain yang tersembunyi—nyata adanya, namun jarang tersorot mata publik.
Di salah satu kafe yang suasananya lebih tenang, duduklah seorang perempuan muda. Penampilannya rapi, berbusana modern, dan wajahnya masih sangat belia. Sebuah tas bermerek tergeletak di atas meja, sementara ponsel pintar keluaran terbarunya sesekali berkedip, menandakan pesan yang masuk. Ia adalah sosok yang mewakili realitas tersembunyi itu. Kita akan memanggilnya Dinda, nama yang disamarkan demi menjaga privasinya. Usianya baru menginjak 21 tahun, dan ia masih berstatus sebagai mahasiswi di salah satu perguruan tinggi swasta di Banda Aceh.
Kepada media ini, Dinda dengan nada tenang dan tanpa rasa canggung membuka suara mengenai dunia yang ia jalani, sebuah dunia yang selama ini hanya dibicarakan berbisik-bisik di kalangan lingkaran pertemanan anak muda kota ini. Sudah hampir dua tahun lamanya ia menjalin hubungan khusus dengan seorang pria berusia sekitar 50 tahun—seorang pria mapan yang telah memiliki istri dan anak.
“Orang-orang mungkin menyebut kami sebagai ‘simpanan’. Ya, mungkin memang begitulah kenyataannya,” ujar Dinda sembari tersenyum tipis, seolah apa yang ia jalani adalah hal yang lumrah dan biasa saja.
Ia menceritakan bagaimana awal mula semuanya bermula. Hubungan itu terjalin lewat perkenalan antar teman. Dinda mengaku, dulunya ia tak pernah membayangkan akan berada di posisi seperti ini, menjalani hubungan yang tersembunyi dan penuh rahasia. Namun, perlahan-lahan, arus pergaulan dan tuntutan gaya hidup mengubah pandangannya.
Menurut pengamatan Dinda, wajah kehidupan kampus dan pergaulan anak muda di Banda Aceh kini telah berubah drastis. Di balik pertahapan budaya yang kuat dan citra religius yang dijunjung tinggi, terdapat lapisan realitas lain yang tumbuh diam-diam.
Fenomena ini, kata Dinda, kini semakin terlihat jelas di kalangan mahasiswi, meski kerap disembunyikan di balik penampilan dan tingkah laku yang tampak wajar di hadapan umum.
LS – Ngalamutas.com
![]()













