MUNA BARAT( SULAWESI TENGGARA), NGALAMUTAS.COM – Di era modern yang serba cepat ini, pemuda di Muna Barat menghadapi tantangan besar: bagaimana menempatkan diri sebagai ujung tombak dalam menjaga budaya dan adat istiadat. Perkembangan teknologi yang pesat telah menggeser nilai-nilai budaya dalam kehidupan sosial masyarakat. Kondisi ini, yang terlihat jelas dalam lingkungan keseharian, mengkhawatirkan karena dapat menjauhkan generasi mendatang dari akar budaya mereka.
Bung ARS, seorang pemuda yang aktif menyuarakan isu ini, mengajak seluruh kaum muda untuk bekerja sama mengembalikan nilai-nilai budaya dan adat istiadat yang mulai meredup. Ia menekankan bahwa pemuda memiliki peran ganda sebagai agen pelestari dan inovator budaya.
“Kita harus aktif mengenal, mempelajari, dan mempraktikkan budaya secara langsung, sekaligus memanfaatkan teknologi untuk mempromosikan dan mengemas ulang budaya agar relevan dengan zaman modern,” ujarnya. Keterlibatan pemuda bertujuan untuk menumbuhkan rasa bangga, identitas, persatuan, dan memastikan warisan budaya terus berlanjut ke generasi mendatang.
Melestarikan kebudayaan daerah penting untuk menjaga jati diri di tengah dominasi budaya asing. Selain itu, kebudayaan daerah memiliki nilai ekonomi sebagai daya tarik wisata yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat lokal. Dengan melestarikannya, kita juga menghormati leluhur yang telah menciptakan dan mewariskan kekayaan budaya tersebut.
Bung ARS mengakui bahwa tantangan dalam melestarikan kebudayaan daerah sangat besar. Salah satunya adalah minimnya minat generasi muda untuk mempelajari dan melestarikan kebudayaan tradisional, yang sering dianggap kuno atau tidak relevan. Globalisasi juga membawa arus budaya asing yang kuat melalui media sosial, film, musik, dan teknologi, yang semakin meminggirkan kebudayaan tradisional. Kurangnya dukungan dari pemerintah dan lembaga pendidikan dalam mengintegrasikan kebudayaan tradisional ke dalam kurikulum juga menjadi faktor penghambat.
Ia mencontohkan budaya Muna, yang seiring waktu dan perkembangan teknologi, mengalami pengikisan pelestarian budaya dan tradisi seperti kesenian dan hiburan Modero, ende-ende, kalego, serta alat musik unik seperti Matatou, gambus, dan ganda yang semakin asing bagi generasi muda.
“Persoalan ini terdengar sepele, namun besar pengaruhnya terhadap identitas dan jati diri kita. Saya berharap kita, kaum muda dan kaum tua, bergandeng tangan mengembalikan budaya dan tradisi kita yang semakin terkikis. Tentunya, kita membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, terutama dari pemerintah daerah,” tutupnya.
![]()














