Di Tengah Kehancuran Aceh Tamiang: Warga Tetap Berjuang, Berharap Hari Baik Akan Datang

- Redaksi

Jumat, 5 Desember 2025 - 02:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kondisi permukiman pascabanjir bandang terlihat dari Helikopter Caracal Skadron Udara 8 Lanud Atang Sendjaja di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Rabu (03/12). (SUMBER FOTO: ANTARA)

i

Kondisi permukiman pascabanjir bandang terlihat dari Helikopter Caracal Skadron Udara 8 Lanud Atang Sendjaja di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Rabu (03/12). (SUMBER FOTO: ANTARA)

KABUPATEN ACEH TAMIANG, NGALAMUTAS.COM – kabupaten Aceh Tamiang adalah salah satu wilayah yang mengalami dampak paling parah setelah dihantam banjir bandang dan longsor pada Rabu (26/11) lalu. Selama setidaknya sembilan hari tak ada bantuan yang datang, dan sampai saat ini bahkan tak ada air bersih, listrik, apalagi jaringan komunikasi. Semuanya terputus, membuat warga terperangkap dalam kesulitan yang luar biasa.

Seorang warga yang tinggal di Kampung Dalam, Kecamatan Karang Baru, Arif, bahkan menyebut wilayah itu seperti “kota zombie” saking porak-porandanya seisi kota dan aroma bangkai yang menyengat. Pria paruh baya ini membatin bahwa mereka tidak akan bisa bertahan lebih lama di sini. Sebab, situasinya semakin tidak menentu.

Sejak peristiwa banjir, tidak ada sama sekali personel pemda yang berupaya datang menyelamatkan warga. Entah itu polisi, damkar, SAR, atau BPBD. Hingga pada Minggu (30/11), dia menyaksikan sejumlah toko swalayan dan toko grosir dijarah warga. Puluhan orang memaksa masuk untuk mengambil persediaan makanan.

Situasi banjir di Aceh Tamiang pada hari kedua, Kamis (27/11). Arif, keluarganya, dan belasan koleganya mengungsi ke masjid. Dari lantai dua masjid, warga menyaksikan banjir menenggelamkan
rumah-rumah.

“Penjarahan di mana-mana,” ujarnya. “Padahal sehari sebelumnya, kami masih berusaha membeli makanan, kami bawa duit untuk beli sembako yang dipaketkan harganya Rp80.000. Tapi besoknya, orang sudah tidak mau beli lagi, mereka pada ngambil saja karena mungkin terlalu mahal bagi masyarakat. Beras saja yang 10 kilogram harganya Rp250.000,” kata Arif.

Seisi kota nyaris seperti kota mati. Tidak ada listrik, air bersih, apalagi jaringan telekomunikasi. Mereka seperti terperangkap. Seluruh jalan rusak dan dipenuhi lumpur setebal 50 sentimeter. Di beberapa sudut jalan, sisa-sisa banjir masih menggenang. Sejumlah kendaraan roda empat teronggok dengan kondisi terbalik atau tercebur ke parit.

Rumah-rumah warga, banyak yang tak lagi utuh bentuknya: ada yang ambruk, atapnya bolong, tembok miring, pagar rumah jebol, jendela hingga pintu copot. Di sisi jalan, ranting-ranting pohon berserak bersama barang-barang milik warga yang hancur diterjang banjir.

Yang tak kalah mengerikan, kata Arif, aroma bangkai tercium di sepanjang jalan. Arif menyaksikan sendiri, beberapa hewan ternak milik warga seperti sapi dan kambing mati dan dibiarkan terkapar. “Bau bangkai tercium sekali, mungkin juga di balik reruntuhan, ada mayat [manusia] cuma tak nampak, tapi baunya ada,” ujarnya. “Orang-orang pun sudah tidak peduli lagi sama mayat, karena orang-orang pada berburu makanan dan air semua. Saya lihat wajah-wajah orang penuh lumpur, pada bingung semua kita di jalanan.”

Sejumlah warga melintas di dekat puing -puing yang terbawa arus banjir di kawasan Desa Bukit Tempurung, Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Rabu (3/12/2025). (SUMBER FOTO: ANTARA)

“Seperti kota mati, kalau orang bilang kayak kota zombie,” ucapnya.

Jika malam datang, seisi kota gelap gulita. Tak ada orang yang berani berkeliaran di jalan. Namun, saat matahari nampak, warga berhamburan di jalan. “Tetapi enggak tahu mau ngapain, berharap aja ada makanan,” kata Arif.

Apa yang akhirnya dilakukan Arif dan keluarganya untuk dapat bertahan hidup?

“Kami harus berusaha sendiri mencari air – pergi ke sungai yang masih ada, meskipun airnya keruh dan tidak bersih. Kami memanaskan air itu agar bisa diminum, meskipun tahu risikonya. Untuk makanan, saya dan anak-anak saya mencari sisa makanan yang tersisa di reruntuhan rumah, atau mengambil apa yang masih bisa dimakan dari toko yang sudah dijarah. Kadang-kadang, beberapa warga yang saling kenal berbagi apa yang mereka punya – meskipun itu cuma sedikit nasi atau ubi yang tersisa. Kami tidak punya pilihan lain selain bertahan dengan apa yang ada di sekitar, berharap setiap hari bahwa akhirnya bantuan akan tiba dan kesulitan ini akan segera berakhir.”

Sumber BBC News Indonesia

(Red)

Loading

Berita Terkait

Sumpah Advokat di PT Surabaya: Lahirnya Intelektual Muda Baru dari Leo Chien Long & Associates Law Firm.
Rigiditas Manajerial Fatayat NU: Kunci Akurasi Distribusi Santunan di Pekan Islami XIX PT ACA.
Pasang Police Line Polres Lumajang Tangani Longsor di Tempursari Kendaraan Berat Dilarang Melintas
Polres Bondowoso Maksimalkan Pengaturan Lalu Lintas Pascaputusnya Jembatan Sukowiryo
Polres Mojokerto Amankan 3 Orang Matel yang Rampas Pajero di Sooko
​”Putusan MK Pasal 21: Kemenangan Intelektualitas Bagi Advokat, Jurnalis, dan Aktivis.
Manifestasi Kepedulian Korporasi: Hari Perdana PT ACA Sasar Ratusan Anak Yatim di Sumawe, Gedangan, dan Bantur.
Semangat Ramadhan, Polwan Polres Bondowoso Tebar 500 Takjil di Pasar Induk

Berita Terkait

Selasa, 3 Maret 2026 - 13:56 WIB

Sumpah Advokat di PT Surabaya: Lahirnya Intelektual Muda Baru dari Leo Chien Long & Associates Law Firm.

Selasa, 3 Maret 2026 - 11:10 WIB

Rigiditas Manajerial Fatayat NU: Kunci Akurasi Distribusi Santunan di Pekan Islami XIX PT ACA.

Selasa, 3 Maret 2026 - 09:52 WIB

Pasang Police Line Polres Lumajang Tangani Longsor di Tempursari Kendaraan Berat Dilarang Melintas

Selasa, 3 Maret 2026 - 09:50 WIB

Polres Bondowoso Maksimalkan Pengaturan Lalu Lintas Pascaputusnya Jembatan Sukowiryo

Selasa, 3 Maret 2026 - 09:47 WIB

Polres Mojokerto Amankan 3 Orang Matel yang Rampas Pajero di Sooko

Senin, 2 Maret 2026 - 11:26 WIB

Manifestasi Kepedulian Korporasi: Hari Perdana PT ACA Sasar Ratusan Anak Yatim di Sumawe, Gedangan, dan Bantur.

Senin, 2 Maret 2026 - 10:15 WIB

Semangat Ramadhan, Polwan Polres Bondowoso Tebar 500 Takjil di Pasar Induk

Senin, 2 Maret 2026 - 10:12 WIB

Polres Gresik Buka Layanan Khusus SIM Santri Trendi Selama Ramadhan

Berita Terbaru