BLORA, NGALAMUTAS.COM – Enam siswa SMK asal Kabupaten Blora diduga mengalami kekerasan dan pelecehan seksual saat menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di wilayah Salatiga.
Salah seorang kerabat korban berinisial PL mengatakan peristiwa itu terjadi ketika para siswa menjalani PKL. Menurutnya, korban diduga mengalami kekerasan fisik serta tindakan pelecehan seksual, seperti perabaan pada bagian tubuh tertentu.
“Saya sudah ketemu terduga pelaku secara langsung,” kata PL.
la mengaku telah mendatangi pihak sekolah untuk meminta agar para siswa segera ditarik dari lokasi PKL demi menjamin keselamatan mereka.
Sementara itu, salah seorang orang tua korban mengaku anaknya mengalami trauma setelah peristiwa tersebut. Korban disebut menjadi murung, enggan keluar rumah, dan kehilangan nafsu makan selama beberapa hari.
“Anak saya trauma. Ndak mau keluar rumah. Murung dan ndak mau makan. Saya juga sampai dua hari tak nafsu makan akibat memikirkan anak saya,” ujarnya.
Menurutnya, jumlah korban diduga mencapai 10 siswa, terdiri atas enam siswa asal Blora dan empat siswa asal Salatiga.
“Anak-anak sempat dipulangkan dari Salatiga. Saat ini masih di rumah,” katanya.
Kepala SMKN 2 Blora Muhtar membantah telah terjadi pelecehan seksual terhadap siswa yang menjalani PKL di Salatiga.. la menilai persoalan tersebut merupakan kesalahpahaman.
Meski demikian, Muhtar membenarkan bahwa pihak sekolah telah menarik para siswa dari lokasi PKL. “Iya, sudah ditarik,” katanya.
la kembali menegaskan tidak ada pelecehan seksual. “Tidak ada peristiwa pelecehan seksual. Semua orang tua, anak-anak dan industri baik-baik saja,” tandasnya.
(Tarniati)
![]()







