KABUPATEN MALANG, NGALAMUTAS.COM – Pada zaman Amarta yang tenteram, tersebar kabar dari para resi bahwa akan turun sebuah wahyu agung bernama Wahyu Purbaningrat, yaitu wahyu kepemimpinan yang membawa kemakmuran, keadilan, dan kesejahteraan bagi rakyat. Barang siapa yang menerima wahyu tersebut, kelak akan menjadi pemimpin yang dicintai rakyat serta mendapat ridha Sang Hyang Wenang.
Mendengar kabar itu, banyak raja dan ksatria berlomba-lomba mencarinya. Bahkan para Kurawa dari Astina juga mengutus para prajurit terbaik untuk memburu wahyu tersebut. Namun para Pandawa tidak tergesa-gesa. Mereka memilih memohon petunjuk kepada Yang Maha Kuasa.
Suatu malam, Prabu Yudhistira bermeditasi. Dalam semadinya, ia mendapat petunjuk bahwa Wahyu Purbaningrat hanya akan turun kepada pemimpin yang mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan dirinya sendiri.
Keesokan harinya, para Punakawan—Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong—mendampingi para Pandawa melakukan perjalanan menuju Hutan Wonomarto, tempat wahyu itu diyakini akan muncul.
Di tengah perjalanan, seperti biasa, Petruk dan Bagong saling berdebat.
“Kalau aku dapat wahyu itu, semua rakyat tak kasih pajak!” kata Petruk.
Bagong tertawa terbahak-bahak. “Kalau begitu negara bangkrut, Truk!”
Gareng menimpali, “Pemimpin itu bukan soal enaknya duduk di kursi, tapi kuat memikul amanah.”
Mendengar perdebatan itu, Semar tersenyum. “Anak-anakku, wahyu bukan dicari dengan keserakahan. Wahyu datang kepada hati yang bersih.”
Sesampainya di Wonomarto, mereka menemukan banyak ksatria yang sedang bertarung memperebutkan cahaya wahyu yang tampak di langit. Semakin mereka berebut, cahaya itu semakin menjauh.
Semar lalu mengajak semua duduk dan merenung.
“Wahyu Purbaningrat bukan hadiah bagi yang paling kuat, melainkan bagi yang paling tulus mengabdi kepada rakyat,” ujar Semar.
Tiba-tiba langit menjadi terang. Cahaya keemasan turun perlahan dan berputar di atas kepala Yudhistira. Namun anehnya, cahaya itu tidak langsung masuk ke tubuh sang raja. Cahaya tersebut justru menyebar ke seluruh penjuru Amarta, menerangi sawah, sungai, pasar, dan rumah-rumah rakyat.
Semar menjelaskan, “Inilah makna Wahyu Purbaningrat. Seorang pemimpin sejati tidak menyimpan kemuliaan untuk dirinya sendiri. Kemuliaannya harus dirasakan rakyat.”
Cahaya itu kemudian kembali menyatu dan masuk ke dalam diri Yudhistira. Pada saat yang sama terdengar suara gaib:
“Barang siapa memimpin dengan kejujuran, keadilan, dan kasih sayang kepada rakyat, dialah penerima Wahyu Purbaningrat.”
Para ksatria yang tadinya berebut menjadi malu. Mereka menyadari bahwa kepemimpinan bukanlah kekuasaan, melainkan pengabdian.
Bagong yang sedari tadi diam lalu berkata, “Jadi pemimpin itu bukan yang paling kaya atau paling sakti?”
Semar menjawab, “Bukan, Ndhuk. Pemimpin yang baik adalah yang mampu membuat rakyat tersenyum, hidup tenteram, dan merasa dilindungi.”
Semua mengangguk. Para Pandawa pulang ke Amarta dengan membawa amanah besar, sementara Punakawan kembali menghibur rakyat dengan petuah dan canda mereka.
Amanat Lakon Wahyu Purbaningrat :
Pemimpin harus mengutamakan kepentingan rakyat.
Kekuasaan adalah amanah, bukan alat untuk memperkaya diri.
Kejujuran, keadilan, dan kebijaksanaan adalah sumber kemuliaan pemimpin.
Kemakmuran sejati terwujud ketika rakyat merasakan manfaat dari kepemimpinan.
Wahyu kepemimpinan hanya turun kepada mereka yang rendah hati dan tulus mengabdi.
Lakon ini sangat relevan dengan tradisi Bersih Desa, karena mengajarkan pentingnya pemimpin dan masyarakat bersatu menjaga kerukunan, gotong royong, serta mensyukuri anugerah Tuhan demi terwujudnya kesejahteraan bersama.
Penulis : Doni Kurniawan (Founder Ngalamutas.com)
![]()







