Oleh: Agus DH, SE
(Pemerhati dan Pelaku Budaya Bandung Barat)
BANDUNG BARAT, NGALAMUTAS.COM – Kita sering berbangga diri menyebut Nusantara sebagai negeri yang kaya raya akan keragaman budaya dan tradisi. Namun, pertanyaannya: apa gunanya kebanggaan dan pengakuan itu jika tidak dibarengi dengan kasih sayang serta perawatan yang sungguh-sungguh?
Realita yang kita hadapi kini miris. Budaya tradisi kita bagaikan pohon yang kurus kering, batangnya kerdil, dan daunnya mulai gugur, siap tumbang dan mati. Ia kekurangan “nutrisi” berupa perhatian, penghayatan, dan pelestarian yang tulus.
Ironisnya, mereka yang seharusnya menjadi penjaga dan pelindung warisan leluhur, justru berubah menjadi pedagang. Budaya yang seharusnya menjadi warisan abadi, kini dikomersialkan, dijadikan komoditas, dan dilelang kepada penawar tertinggi. Nilai luhur yang terkandung di dalamnya perlahan hilang, tersisih oleh hitung-hitungan materi semata.
Kita telah kehilangan jiwa dan ruh dari budaya itu sendiri. Kita terlalu sibuk menakar nilai ekonomis, namun melupakan nilai spiritual, filosofis, dan historis yang menjadi pondasinya. Kita lupa bahwa budaya tradisi adalah napas kehidupan bangsa, bukan sekadar aksesoris atau hiasan pesta semata.
Sudah saatnya kita sadar dan berhenti. Hentikanlah sikap yang hanya memperlakukan budaya sebagai objek transaksi. Budaya berhak mendapatkan kasih sayang dan perlakuan yang layak. Mari kita kembali menjadi penjaga, bukan penjual; menjadi pelindung, bukan pengejar keuntungan.
Bangkitlah, para pelaku dan tokoh budaya! Saatnya kita bersatu, berjuang, dan merawat kembali akar identitas kita. Jangan biarkan warisan ini mati dan punah ditelan zaman, karena kehilangan budaya sama artinya dengan kehilangan jati diri kita sebagai bangsa.
LS – Ngalamutas.com
![]()







