Menyisir Mata Rantai yang Hilang: Upaya BRIN dan PITI Membedah Sejarah Tionghoa Muslim

- Redaksi

Kamis, 18 Desember 2025 - 13:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KOTA MALANG (JATIM), NGALAMUTAS.COM – Narasi sejarah seringkali menyisakan ruang kosong yang belum terisi. Menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama tim peneliti dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan penjelajahan ilmiah bertajuk “Riset Indonesia Maju (RIIM) – Ekspedisi”.

​Bukan sekadar studi pustaka, tim ini turun langsung ke lapangan untuk mengeksplorasi kontribusi nyata komunitas Tionghoa Muslim dalam pembangunan karakter bangsa (nation building).

​Dalam kunjungannya ke Malang , Lidya Christin Sinaga, Peneliti dari Pusat Riset Politik BRIN, mengungkapkan bahwa Jawa Timur merupakan wilayah dengan kekayaan historis Tionghoa Muslim yang paling dinamis di Indonesia.

​”Kita melihat fenomena Masjid Cheng Hoo sebagai simbol asimilasi yang luar biasa. Di Jawa Timur saja ada enam masjid, mulai dari Surabaya, Pandaan, hingga Malang. Ini membuktikan bahwa identitas Tionghoa dan keislaman bisa berjalan beriringan dengan nilai lokalitas Indonesia,” jelas Lidya, saat berkunjung ke kantor sekretariat DPD PITI Malang Raya di Jl. Sulfat No.10, Purwantoro, Kec. Blimbing, Kota Malang, Kamis (18/12/2025).

​Ia menambahkan bahwa riset ini penting untuk memberikan basis data ilmiah guna memitigasi isu SARA yang kerap dipolitisasi dalam berbagai kontestasi politik.

​Menanggapi ekspedisi ini, Ketua DPD Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Malang Raya, Leo A. Permana, S.H., M.Hum., memberikan perspektif yang mendalam. Ia menilai bahwa selama puluhan tahun, publik seolah menderita “amnesia sejarah” mengenai peran etnis Tionghoa.

​”Ada mata rantai yang hilang sejak era Orde Baru. Masyarakat banyak yang tidak tahu bahwa rumah bersejarah di Rengasdengklok adalah milik warga Tionghoa, atau ada keterlibatan aktif tokoh Tionghoa di BPUPKI. Jika sejarah ini tidak dibuka kembali melalui riset seperti yang dilakukan BRIN dan UMM, maka prasangka akan terus ada,” ungkap Leo.

Ia berharap melalui kolaborasi ini, komunitas Tionghoa Muslim tidak lagi dipandang sebagai “orang asing”, melainkan sebagai elemen yang telah berdarah-darah ikut membangun Indonesia sejak sebelum kemerdekaan.

​Berdasarkan dokumen proposal penelitian tahun 2025, riset ini dipimpin oleh Prof. Dr. Wahyudi Winarjo, M.Si dengan tim ahli yang solid, antara lain Syafuan Rozi, Tonny Dian Effendi, Lidya Christin Sinaga, dan Atika Nur Kusumaningtyas.
​Tim ini akan membedah tiga aspek utama: Lokalitas, Etnisitas, dan Religiusitas. Output dari riset ini tidak hanya akan menghiasi jurnal akademik, tetapi juga diharapkan menjadi pedoman kebijakan nasional dalam merawat kebinekaan.

​Dengan adanya ekspedisi ini, Malang Raya kembali membuktikan dirinya sebagai laboratorium toleransi. Sinergi antara lembaga riset negara (BRIN), akademisi (UMM), dan organisasi kemasyarakatan (PITI) diharapkan mampu melahirkan literasi baru yang lebih inklusif bagi masa depan Indonesia.

​”Pemahaman adalah kunci toleransi. Jika kita tidak mengenal sejarah satu sama lain, bagaimana kita bisa bersatu?” tutup Leo Permana dengan nada optimis.

(KIM)

Ngalamutas.com

Loading

Berita Terkait

Kebakaran Melanda Instalasi Gizi RSSA Malang: Tak Ada Korban Jiwa, Layanan Pasien Tetap Terjamin
Musibah di Tengah Karnaval: Sebuah Penantian yang Tak Berujung Pulang
Aktivis Blora Ultimatum SK Menteri ESDM soal Gunung Ungaran: “Stop Proyek Perusak Alam, Jangan Korbankan Gunung demi Energi!
Polda Jateng; Keselamatan Anak Tanggung Jawab Kita Bersama, Orang Tua Diminta Tingkatkan Pengawasan
Dugaan Penahanan Dana Calon Siswa Senilai Rp22,5 Juta Tanpa Layanan Pendidikan
Pastikan Tidak Membawa Senpi dan Barang Berbahaya, Saat Apel, Bid Propam Polda Jateng Cek Semua Personel Yang Layani Penyampaian Pendapat Di Tugu Muda
Breaking News. Kebakaran Besar Melanda Pabrik Bingkai di Perbatasan Jakarta Timur–Bekasi, Asap Pekat Membubung Tinggi
Gedung Bapenda DKI Jakarta Terbakar di Tengah Malam, 20 Unit Pemadam dan 100 Personel Dikerahkan

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 10:25 WIB

Kebakaran Melanda Instalasi Gizi RSSA Malang: Tak Ada Korban Jiwa, Layanan Pasien Tetap Terjamin

Minggu, 30 Agustus 2026 - 22:38 WIB

Musibah di Tengah Karnaval: Sebuah Penantian yang Tak Berujung Pulang

Minggu, 30 Agustus 2026 - 21:33 WIB

Aktivis Blora Ultimatum SK Menteri ESDM soal Gunung Ungaran: “Stop Proyek Perusak Alam, Jangan Korbankan Gunung demi Energi!

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 14:47 WIB

Polda Jateng; Keselamatan Anak Tanggung Jawab Kita Bersama, Orang Tua Diminta Tingkatkan Pengawasan

Rabu, 26 Agustus 2026 - 22:30 WIB

Dugaan Penahanan Dana Calon Siswa Senilai Rp22,5 Juta Tanpa Layanan Pendidikan

Rabu, 26 Agustus 2026 - 22:06 WIB

Pastikan Tidak Membawa Senpi dan Barang Berbahaya, Saat Apel, Bid Propam Polda Jateng Cek Semua Personel Yang Layani Penyampaian Pendapat Di Tugu Muda

Selasa, 11 Agustus 2026 - 21:10 WIB

Breaking News. Kebakaran Besar Melanda Pabrik Bingkai di Perbatasan Jakarta Timur–Bekasi, Asap Pekat Membubung Tinggi

Jumat, 7 Agustus 2026 - 17:22 WIB

Gedung Bapenda DKI Jakarta Terbakar di Tengah Malam, 20 Unit Pemadam dan 100 Personel Dikerahkan

Berita Terbaru