TAKENGON (ACEH TENGAH), NGALAMUTAS.COM – Fenomena pergerakan tanah di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, semakin mengkhawatirkan. Hingga Selasa (13/1/2026), pergerakan tanah dilaporkan melebar dan kini mengancam keberadaan Jalan Buter-Pondok Balik, jalur kabupaten yang menjadi akses vital transportasi dan distribusi hasil pertanian masyarakat setempat menghubungkan Blang Mancung dengan Simpang Balik.
Peristiwa ini menjadi sorotan media sosial setelah sebuah video drone memperlihatkan lubang besar yang terbentuk akibat pergerusan tanah yang mendekati badan jalan. Kepala BPBD Aceh Tengah, Andalika, menyatakan bahwa belum diketahui pasti kapan lubang tersebut terbentuk, namun Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Aceh telah melakukan pengukuran pertambahan luasnya.
“Berdasarkan data ESDM Aceh, luas longsoran pada tahun 2025 mencapai lebih dari 27.000 meter persegi dan telah mendekati jalan kabupaten,” ujar Andalika.
Kajian tahun 2022 oleh BPBD Aceh Tengah bersama tim geologi dan survei geofisika ESDM Aceh menyebutkan bahwa longsoran terjadi pada lapisan tanah permukaan yang jenuh air dan didominasi material vulkanik yang mudah mengantarkan air. Andalika menegaskan bahwa fenomena ini bukan sinkhole klasik, melainkan slow moving landslide atau pergerakan tanah secara perlahan.
Penyebab Pergerakan Tanah
Menurut kajian yang dilakukan, penyebab longsor antara lain:
– Struktur tanah yang tidak stabil
– Curah hujan tinggi
– Kemiringan lereng yang curam
– Retakan lama yang menjadi jalur masuk air
– Beban dinamis dan statis di sekitar lokasi
– Faktor aktivitas gempa bumi
Wilayah Kampung Bah dan sekitarnya dikategorikan zona tinggi rawan pergerakan tanah, dengan pergerakan yang sangat aktif dan berkelanjutan. Selain itu, sejak Gempa Gayo 2013 yang mengguncang lokasi tersebut beserta beberapa kampung lain di Kecamatan Ketol, luas longsoran terus bertambah. Di luar area lubang, terdapat lahan pertanian masyarakat yang ditanami tebu dan cabai.
4 Rekomendasi Penanganan
Berdasarkan kajian tim ahli, terdapat empat poin rekomendasi untuk penanganan fenomena tersebut:
1. Melakukan rekomendasi struktural/teknis dan nonstruktural lebih lanjut terkait penanganan longsoran tanah di Kampung Bah dan kampung terkait.
2. Melaksanakan pemantauan berkelanjutan dan berkala terhadap perkembangan gerakan tanah.
3. Memasang rambu peringatan rawan longsor, garis pembatas, serta pengaman di sekitar lokasi; saat ini telah dipasang police line di Jalan Buter-Pondok Balik.
4. Melakukan koordinasi lintas sektor antara BPBD, Dinas PUPR, Dinas ESDM Aceh, dan dinas terkait untuk merencanakan relokasi trase jalan, serta penanganan power sutet dan perkebunan warga di sekitarnya.
Andalika mengaku bahwa pihaknya sedang melakukan upaya penanganan akses jalan di beberapa lokasi terisolasi pascabencana banjir dan longsor di Aceh Tengah, dengan prioritas mengatasi isolasi warga bersama sejumlah instansi termasuk TNI dan Polri.
“Terkait jalan ini juga kami bahas, tetapi prioritas kami upayakan isolasi warga dapat dilakukan dengan segera,” tutupnya.
Ngalamutas.com
![]()














