LUMAJANG, NGALAMUTAS.COM — Tragedi duel carok yang merenggut nyawa Abdul Karim Marzuki (55) menyisakan penyesalan mendalam bagi keluarganya. Sebelum meninggalkan rumah untuk menghadapi lawannya, pria warga Desa Sumberwringin, Kecamatan Klakah ini ternyata sempat dilarang tegas oleh istrinya. Namun, keyakinan hati yang sudah mengeras membuatnya tetap berangkat, hingga akhirnya nyawanya melayang di tengah kebun sengon.
Sebelumnya, pada Kamis (21/5/2026), Abdul Karim terlibat pertarungan berdarah menggunakan celurit melawan Wasil. Insiden itu berujung pada kematian Abdul Karim di tempat kejadian, sedangkan Wasil menderita luka bacok parah di perut dan kini masih menjalani perawatan intensif di RSUD dr. Haryoto Lumajang.
Menurut keterangan istrinya, Saniyeh, kejadian bermula saat suaminya pulang sebentar ke rumah semata-mata untuk mengambil senjata tajam. Bahkan, sebelum berangkat, Abdul Karim secara terang-terangan berpamitan dan menyatakan niatnya untuk berkelahi dengan Wasil.
Mendengar hal itu, hati Saniyeh langsung terasa cemas. Ia berusaha sekuat tenaga melarang suaminya pergi, mengingat masa depan kedua anak mereka yang masih duduk di bangku sekolah.
“Dia pamit mau carok sama Wasil. Saya sudah melarangnya, saya bilang kasihan anak-anak kita yang masih bersekolah. Kalau terjadi apa-apa dengan ayahnya, siapa yang akan menjaga mereka nanti?” kenang Saniyeh dengan suara terbata-bata, Kamis kemarin.
Namun, niat Abdul Karim sudah tak dapat dibendung. Ia tetap bersikeras melangkahkan kaki keluar rumah.
“Saya larang berkali-kali tetap tidak bisa. Dia bilang hatinya sudah mantap dan bulat tekadnya untuk menghadapi masalah itu,” tambahnya.
Saniyeh hanya bisa pasrah melihat suaminya pergi meninggalkan rumah. Sekitar 30 menit kemudian, ia memberanikan diri menyusul ke lokasi kebun sengon, berharap masih sempat mencegah hal terburuk terjadi.
Namun harapan itu kandas. Begitu tiba di tempat kejadian, matanya langsung terasa gelap mendapati suami dan lawannya sudah tergeletak berlumuran darah akibat sabetan celurit.
“Saya sempat pulang sebentar untuk mengambil gendongan agar bisa mengangkat dan membawa suami saya pulang. Tapi begitu kembali ke sana, ternyata dia sudah tidak bernyawa lagi,” ujarnya sambil menahan tangis.
Tragedi ini menjadi bukti nyata, betapa mengerikannya dampak amarah yang tak diredam, yang akhirnya merenggut nyawa dan meninggalkan duka mendalam bagi orang-orang tercinta yang ditinggalkan.
LS – Ngalamutas.com
![]()







