MADIUN, NGALAMUTAS.COM – Komunitas Kain dan Kebaya Indonesia (KKI) sukses menggelar Musyawarah Nasional (Munas) II di Ballroom Hotel Merdeka, Kota Madiun, Jawa Timur, Sabtu, (06/05/2026).
Forum tertinggi organisasi yang dihadiri ratusan delegasi Dewan Pimpinan Cabang (DPC) dari berbagai daerah di Indonesia tersebut berlangsung meriah sekaligus menjadi momentum strategis memperkuat peran perempuan dalam pelestarian budaya bangsa.
Mengusung tema “Semangat Perempuan dalam Berkebaya”, Munas II KKI tidak hanya menjadi ajang konsolidasi organisasi, tetapi juga ruang penguatan komitmen perempuan Indonesia dalam menjaga eksistensi kain dan kebaya sebagai identitas budaya nasional.
Sejak pagi hari, suasana budaya Nusantara begitu terasa. Para peserta tampil seragam mengenakan kebaya merah, hijab merah, selendang putih, serta pin KKI. Acara dibuka dengan tari tradisional bertema kain dan kebaya Nusantara yang dipersembahkan DPC Madiun dan mendapat apresiasi meriah dari seluruh peserta.
Rangkaian pembukaan kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, Mars KKI, dan Hymne KKI yang dipimpin Paduan Suara DPC Banyuwangi, dilanjutkan doa bersama yang dipimpin Hj. Mahmudah Syaifull dari DPC Mojokerto.
Ketua Panitia Munas II KKI, Indri dari DPC Madiun, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pengurus dan anggota yang telah mendukung terselenggaranya agenda nasional tersebut.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta dari berbagai daerah yang hadir dan mengikuti seluruh rangkaian Munas. Semangat kebersamaan inilah yang menjadi kekuatan organisasi untuk terus berkembang,” ujarnya.
Munas II KKI turut mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota Madiun. Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Madiun, F. Bagus Panuntun, hadir secara langsung membuka acara dan menyampaikan kebanggaannya atas terpilihnya Kota Madiun sebagai tuan rumah forum nasional tersebut.
“Ini sebuah kebanggaan bagi Pemerintah Kota Madiun. Munas pertama dilaksanakan di Jakarta, dan Munas kedua dilaksanakan di kota kecil kami, Kota Madiun. Kami merasa terhormat dipercaya menjadi tuan rumah kegiatan nasional ini,” kata Bagus Panuntun dalam sambutannya.
Ia juga mengajak seluruh peserta menikmati berbagai destinasi wisata yang kini menjadi daya tarik Kota Madiun.
“Kami ingin mengajak panjenengan semua menikmati Kota Madiun. Kota kecil yang terus berkembang menjadi destinasi wisata dan ekonomi kreatif yang menarik untuk dikunjungi,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Bagus memaparkan arah pembangunan Kota Madiun yang berfokus pada sektor pariwisata.
“Lima tahun kemarin kami sudah menghadirkan visi pembenahan Madiun menjadi kota wisata. Untuk lima tahun ke depan, tema besar kami adalah Madiun Mendunia. Setelah itu, lima tahun berikutnya Madiun Berkilau untuk menyongsong Indonesia Emas 2045,” ungkapnya.
Menurut Bagus, strategi tersebut menunjukkan hasil positif. Sepanjang tahun 2025, Kota Madiun tercatat menerima sekitar 2,5 juta kunjungan wisatawan berdasarkan data yang dihimpun melalui berbagai metode pemantauan.
“Fokus kami saat ini adalah menjaga agar Kota Madiun tetap kokoh sebagai salah satu destinasi wisata utama. Tahun lalu jumlah kunjungan wisata mencapai sekitar 2,5 juta orang,” jelasnya.
Ia juga mengungkap fakta menarik mengenai karakteristik wisatawan yang datang ke Kota Madiun.
“Berdasarkan pengamatan lapangan dan komunikasi dengan para sopir bus wisata, sekitar 90 persen wisatawan yang datang merupakan rombongan ibu-ibu pengajian dari berbagai daerah seperti Ngawi, Magetan, Ponorogo, Caruban, hingga Nganjuk,” katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan besarnya kontribusi perempuan dalam menggerakkan sektor ekonomi dan pariwisata daerah.
Memasuki agenda inti, peserta mengikuti Sidang Pleno I hingga Sidang Pleno III yang dipimpin tim formatur terdiri atas Sukanthi, Yani, dan Paula.
Dalam sidang tersebut, peserta menegaskan kembali fungsi KKI sebagai wadah komunikasi, informasi, representasi, fasilitasi, dan advokasi perempuan Indonesia dalam bidang kebudayaan, pendidikan, sosial, pariwisata, jasa, serta pemberdayaan ekonomi.
Munas juga kembali menetapkan visi organisasi “Menjadi Perempuan Indonesia Lebih Berdaya dan Berbudaya.”
Visi tersebut dijabarkan dalam empat misi utama, yaitu melestarikan kain dan kebaya sebagai simbol budaya Indonesia, memperkuat peran perempuan dalam pembangunan bangsa, meningkatkan kreativitas perempuan dalam lingkungan sosial, serta mendorong penguatan ekonomi kerakyatan melalui pendidikan dan pemberdayaan perempuan.
Puncak Munas II berlangsung pada Sidang Pleno III yang membahas suksesi kepemimpinan organisasi. Dalam forum tersebut, peserta secara demokratis menetapkan dan melantik kembali Drs. Erna Setianingsih, SST, SE, MM, MA, MPdK, MKes, MTh, DCC, DED sebagai Ketua Umum KKI untuk masa bakti berikutnya.
Terpilihnya kembali Erna Setianingsih menunjukkan tingginya kepercayaan anggota terhadap kepemimpinan yang selama ini dinilai berhasil memperluas jaringan organisasi sekaligus memperkuat gerakan pelestarian kain dan kebaya Indonesia.
Dalam sambutannya, Erna menegaskan komitmen KKI untuk terus menjadi wadah pemberdayaan perempuan yang berbasis budaya.

“Kain dan kebaya bukan sekadar busana, tetapi identitas bangsa yang harus terus dijaga. Melalui KKI, kami ingin perempuan Indonesia semakin berdaya, kreatif, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat serta pembangunan bangsa,” ujarnya.
Rangkaian Munas II ditutup dengan Gala Dinner yang berlangsung meriah. Berbagai pertunjukan budaya ditampilkan, mulai dari fashion show kain dan kebaya Nusantara, line dance, hingga flash mob yang melibatkan seluruh peserta dari berbagai daerah.
Kegiatan tersebut menjadi simbol kuat persatuan anggota KKI dari seluruh Indonesia dalam satu semangat, yakni melestarikan warisan budaya bangsa sekaligus memperkuat peran perempuan Indonesia di berbagai sektor kehidupan.
Keberhasilan penyelenggaraan Munas II KKI di Kota Madiun menjadi bukti bahwa gerakan pelestarian kain dan kebaya Nusantara terus berkembang dan mendapat dukungan luas. Lebih dari sekadar forum organisasi, Munas ini menjadi momentum memperkuat sinergi perempuan Indonesia dalam menjaga identitas budaya sekaligus mendorong pemberdayaan ekonomi berbasis kearifan lokal menuju Indonesia Emas 2045.
(Sila).
![]()







