JAKARTA, NGALAMUTAS.COM – Ketua Dewan Pers, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, menyoroti beratnya perjuangan perusahaan media dalam mempertahankan eksistensi di tengah derasnya arus digitalisasi dan persaingan antarplatform informasi saat ini.
Hal itu disampaikannya saat memberikan pandangan terhadap buku yang mengangkat sisi lain perjuangan para pengusaha media yang tergabung dalam Serikat Media Siber Indonesia Malang Raya. Menurutnya, masyarakat selama ini hanya melihat hasil akhir berupa berita yang dapat dibaca kapan saja melalui layar handphone, namun jarang memahami bagaimana kerasnya perjuangan media untuk tetap hidup.
“Yang pembaca pahami saat ini mungkin hanya bisa membaca berita setiap saat, scroll layar handphone dan memilih berita yang hendak dibaca. Namun, jarang yang bertanya bagaimana media bertahan sampai sekarang, bagaimana mereka melanjutkan hidup di tengah persaingan keras antar platform seperti hari ini,” ujar Komaruddin di Jakarta, Kamis (14/05/2026).
Ia mengaku memahami betapa terjalnya perjalanan para pengusaha media, khususnya yang tergabung di SMSI Malang Raya. Menurutnya, di balik operasional sebuah media terdapat beban besar yang harus ditanggung, mulai dari pembayaran server tahunan, sewa kantor bulanan, hingga gaji para awak media yang harus tetap berjalan, sementara pendapatan iklan belum tentu mencukupi.
“Di akhir tahun mereka harus membayar tagihan server, sewa kantor, bahkan memikirkan gaji awak media, sementara kantung pengusaha media tak juga menebal, kendati bekerja keras siang dan malam,” katanya.
Komaruddin menilai buku tersebut menjadi karya penting karena membuka “ruang belakang media” yang selama ini jarang diketahui publik. Ia menyebut buku itu sebagai gambaran nyata tentang dapur redaksi, tempat kerja keras, idealisme, dan perjuangan ekonomi berjalan bersamaan.
“Buku ini adalah tentang ruang belakang media. Tentang dapur yang tak pernah diendus siapapun,” tegasnya.
Meski menghadapi tantangan berat, ia menilai para pengusaha media tetap menunjukkan semangat pantang menyerah. Mereka terus berupaya menghadirkan informasi yang akurat, menjaga verifikasi, meneguhkan etika jurnalistik, serta memastikan ruang redaksi tetap hidup dan wartawan tetap bekerja.
Menurutnya, banyak pelaku media yang dengan cerdas mulai menemukan model bisnis baru untuk bertahan. Ada yang fokus pada pemberitaan pendidikan, pariwisata, hingga mengembangkan lini usaha event organizer sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan zaman.
“Mereka harus bersaing dengan influencer, konten kreator, akun anonim, homeless media, bahkan kecerdasan buatan. Tapi mereka tetap berusaha menemukan oksigen di tengah impitan yang tidak mudah,” ungkapnya.
Komaruddin menegaskan bahwa masa depan media tidak ditentukan oleh besarnya modal atau megahnya kantor redaksi, melainkan oleh tingkat kepercayaan publik dan kecerdasan dalam mengelola model bisnis yang sehat.
“Saya percaya bahwa media yang sehat adalah media yang bisa menemukan model bisnis yang sehat pula. Masa depan media ditentukan oleh siapa yang paling dipercaya publiknya, dan siapa yang paling cerdik menghidupkan bisnisnya,” jelasnya.
Sebagai Ketua Dewan Pers, ia menyampaikan apresiasi tinggi kepada insan pers di Malang Raya yang tetap menjaga idealisme di tengah tekanan finansial yang berat. Ia menilai semangat tersebut menjadi bukti bahwa jurnalisme tetap harus hadir sebagai obor demokrasi.
“Dari hati terdalam, saya sampaikan salut dan apresiasi atas perjuangan teman-teman insan pers di Malang Raya yang tetap menyalakan semangat idealisme di tengah himpitan finansial,” tuturnya.
Komaruddin juga menilai buku tersebut sangat membantu memperkaya wawasan mengenai kompleksitas bisnis pers, tantangan, serta peluang yang dihadapi industri media saat ini. Ia bahkan menyebut karya itu sebagai catatan penting dari laboratorium jagat berita dan informasi yang lahir langsung dari para pelaku lapangan di Jawa Timur.
“Saya menunggu terbitnya buku serupa dari wilayah lain,” pungkasnya. (Kim).
![]()







