BANDUNG BARAT, NGALAMUTAS.COM – Daratan subur di Timur Desa Cicangkanghilir, Kecamatan Cipongkor, kini bernasib pilu. Lebih dari 50 hektar sawah yang dulu menjadi lumbung kehidupan, kini meranggas, kering kerontang, dan tersiksa menjadi lahan tadah hujan yang tak terurus.
Menyaksikan pilunya nasib petani ini, Sekretaris Jenderal Forum Membangun Desa (FORMADES), Agus Dadang Hermawan yang akrab disapa Kang Harry, melontarkan protes keras. Suaranya menggelegar, menuntut kehadiran nyata Pemerintah Kabupaten Bandung Barat yang selama ini terasa absen.
Irigasi Tinggal Kenangan, P3A Mati Suri
Kenangan masa kejayaan pertanian di era 80-an hingga 90-an kini tinggal cerita. Saluran air yang dulu mengalirkan kemakmuran, kini tertimbun semak belukar dan mati suri akibat kelalaian panjang.
“Ini adalah dosa kolektif pemangku kebijakan! Lihatlah, 50 hektar lebih sawah produktif kini hanya bisa ditanami setahun sekali, itupun dengan penuh perjuangan. Ke mana perginya fungsi P3A? Ke mana perhatian Dinas Pertanian dan pemerintah desa?” seru Kang Harry dengan nada yang dalam dan menyentuh.
“Saluran irigasi ini hilang bukan karena bencana alam, tapi karena mati perawatan dan mati rasa. Ini murni kelalaian birokrasi yang membiarkan rakyat menderita,” tegasnya pedas.
Sentilan Tajam untuk Jeje Ritchi Ismail & Asep Ismail
Sebagai figur yang peduli nasib desa, Kang Harry tak ragu menyoroti kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati KBB, Jeje Ritchi Ismail dan Asep Ismail. Ia menegaskan, pembangunan tidak boleh hanya berwajah cantik di pusat kota, namun membiarkan wilayah perbatasan terpinggirkan.
“Saya ingatkan Bapak Bupati dan Wakil Bupati, jangan biarkan petani kita mengalami ‘stunting’ ekonomi di tengah tanah yang seharusnya subur. Cicangkanghilir Timur ini wilayah strategis, pertemuan tiga kecamatan, tapi infrastruktur pertaniannya nyaris nol,” ujar Kang Harry.
“Jangan sampai rakyat berkesimpulan: pemerintah hadir hanya saat butuh suara, tapi hilang saat petani butuh air. Jangan biarkan janji manis itu menguap begitu saja,” tambahnya dengan tekanan yang memikat perhatian.
Gugatan Terbuka: Kelompok Tani Bukan Sekadar Stempel
Kang Harry juga menyoroti fenomena miris dimana kelompok tani hanya hidup di atas kertas. Tanpa pembinaan, tanpa pendampingan, dan tanpa “nutrisi” ekonomi yang nyata, organisasi petani kini kehilangan nyawa.
Melalui suaranya yang berwibawa, FORMADES mendesak langkah konkret segera dilakukan:
✅ Revitalisasi Total: Bangkitkan kembali sistem irigasi agar air kembali mengalir dan petani bisa panen maksimal.
✅ Keadilan Infrastruktur: Pastikan anggaran menyentuh wilayah perbatasan, jangan diskriminatif.
✅ Hidupkan Kembali Petani: Jadikan kelompok tani sebagai kekuatan ekonomi nyata, bukan sekadar stempel administrasi.
“Identitas Bandung Barat itu agraris! Kalau petani di perbatasan dibiarkan menderita, kering kerontang tanpa perhatian, maka kedaulatan pangan KBB hanyalah dongeng belaka. Kami tidak butuh janji, kami butuh bukti nyata! Bangunlah sebelum semuanya terlambat!”
LS – Ngalamutas.com
![]()







