BLORA, NGALAMUTAS.COM – Suasana Jalan Pemuda, tepatnya di kawasan Kantor Bupati Blora, mendadak berubah tegang pada Rabu pagi, 29 April 2026. Ratusan orang berkumpul membawa spanduk tuntutan, berorasi dengan lantang, bahkan membakar ban dan melempar batu. Di sisi lain, barisan aparat keamanan Polres Blora bersiaga rapi menghadapi potensi kerusuhan. Bagi warga yang melihat sekilas, kejadian ini bak aksi unjuk rasa besar yang tak terkendali. Namun, kenyataannya ini adalah Simulasi Penanganan Gangguan Kamtibmas yang digelar Polres Blora sebagai wujud kesiapsiagaan wilayah.
Kegiatan ini dirancang secara terstruktur dalam tiga tahapan situasi, yaitu:
✅ Tahap Hijau: Kondisi massa yang masih tenang dan pasif
✅ Tahap Kuning: Mulai ada gejala keributan dan massa mulai aktif bergerak
✅ Tahap Merah: Situasi memanas, massa bersikap agresif sehingga diperlukan penanganan segera
Seluruh rangkaian simulasi dilaksanakan dengan berlandaskan peraturan resmi, antara lain Peraturan Kapolri Nomor 16 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengendalian Massa, Peraturan Kapolri Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian, dan Peraturan Kepala Baharkam Polri Nomor 1 Tahun 2012 tentang Pedoman Penggunaan Pasukan Pengendalian Massa.
Wakil Bupati Blora, Hj. Sri Setyorini, yang menyaksikan langsung kegiatan ini bersama jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), menyambut baik upaya peningkatan kemampuan aparat tersebut. Menurutnya, latihan semacam ini menjadi benteng utama keamanan daerah.
“Kegiatan hari ini sangat bermanfaat sebagai persiapan dini menghadapi kemungkinan gangguan ketertiban. Tujuan utamanya jelas: memberikan perlindungan, ketenangan, dan keamanan sepenuhnya bagi seluruh warga Blora,” ungkap Wabup Sri.
Sementara itu, Kapolres Blora AKBP Wawan Andi Susanto, S.H., S.I.K., M.H. menjelaskan bahwa sekitar 300 personel kepolisian dikerahkan dalam latihan ini. Tujuan utamanya adalah mempertajam kemampuan teknis serta menyempurnakan sistem koordinasi.
“Kami melatih diri untuk siap menghadapi segala kemungkinan situasi. Hal terpenting yang kami asah adalah keselarasan kerja sama antar petugas maupun dengan instansi lain, karena keberhasilan penanganan keributan sangat bergantung pada komunikasi dan kesepahaman peran,” tegas Kapolres Wawan.
Ia menambahkan bahwa kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat bersifat dinamis, sehingga kesiapsiagaan tidak boleh berhenti. Simulasi ini menjadi gambaran nyata agar seluruh pihak paham langkah-langkah yang harus diambil saat keadaan darurat terjadi.
“Kita tidak pernah menginginkan terjadinya kerusuhan, namun kita tidak boleh lengah. Kunci utama keamanan daerah ada pada kesiapan diri kita sendiri,” tandasnya.
Di akhir kegiatan, Kapolres menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang terlibat, antara lain Dinas Pemadam Kebakaran, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, serta seluruh Organisasi Perangkat Daerah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Blora.
“Semoga latihan ini menjadikan kita semakin tangkas dan sigap dalam menjembatani aspirasi masyarakat sekaligus menjaga ketertiban wilayah Kabupaten Blora,” pungkasnya.
( Sukirman)
![]()







