KEDIRI, NGALAMUTAS.COM – Sosok Anang Sularso (33), warga Desa Bogem, Kecamatan Gurah, yang jenazahnya ditemukan di Sungai Mrican, Kabupaten Jombang, kini menjadi sorotan publik. Di mata warga desa, almarhum dikenal sebagai pribadi yang unik, memiliki perangai keras, dan catatan hidup yang cukup kelam.
Jenazah pria yang ditemukan dengan luka fatal tersebut akhirnya dipulangkan ke tanah kelahirannya pada Senin (13/4/2026) untuk dimakamkan, menyisakan kenangan dan cerita masa lalu di tengah warga.
Sosok yang Menjauh dari Lingkungan
Kepala Desa Bogem, Samsudin, mengenang almarhum sebagai warga asli yang lahir dan besar di desanya tersebut. Meski sempat pindah domisili mengikuti istrinya, karakter dan perilaku almarhum cukup dikenal oleh tetangganya.
“Almarhum lahir dan besar di sini, rumahnya pun tak jauh dari tempat tinggal saya. Jadi saya cukup tahu bagaimana sosok beliau,” ujar Samsudin.
Menurut pengakuan warga, Anang dikenal sebagai sosok yang cenderung tertutup dan memiliki perangai yang kurang bersahabat. Hal ini membuat masyarakat sekitar kerap menjauh demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Dalam keseharian, almarhum bekerja sebagai pekerja serabutan, terutama di bidang bangunan. Di waktu luangnya, ia lebih sering menghabiskan waktu dengan memancing, ketimbang berbaur dalam kegiatan sosial.
“Keterlibatannya dalam kegiatan kemasyarakatan sangat jarang, bahkan bisa dihitung dengan jari. Ia lebih suka menyendiri,” tambahnya.
Momen terakhir warga melihatnya adalah saat acara Halal Bihalal warga. Saat itu, almarhum justru memilih meninggalkan desa dengan mengendarai motor Suzuki Satria Fu-nya.
“Saat warga lain berkumpul, beliau justru pergi. Dan itu menjadi pertemuan terakhir kami. Setelah itu, kami bertemu lagi hanya saat beliau sudah tiada dan hendak dimakamkan,” kenang Samsudin dengan nada sedih.
Catatan Kelam dan Kriminalitas
Sisi lain dari kehidupan Anang yang tak bisa dilupakan warga adalah catatan hukumnya yang buruk. Terbukti, ia sudah tiga kali keluar-masuk penjara karena kasus kriminalitas.
“Beliau pernah berurusan dengan hukum hingga tiga kali. Masalahnya beragam, mulai dari kekerasan saat meminum minuman keras hingga masalah perjudian,” ungkap Kades.
Namun, di balik segala kekurangan dan masalah yang pernah ia buat, warga dan pemerintah desa tidak menutup pintu maaf. Saat jenazahnya tiba, warga tetap bergotong royong dan memfasilitasi pemakaman dengan penuh rasa kemanusiaan.
“Meskipun begitu, beliau tetap warga kami. Kemarin saya minta tolong Pak Kasun untuk menjemput jenazahnya, dan warga pun ikut membantu memakamkan dengan baik,” pungkas Samsudin.
Saat ini, kasus kematian Anang Sularso masih dalam proses penyelidikan pihak kepolisian untuk mengungkap penyebab pasti dan latar belakang kejadian di Sungai Mrican.
LS – Ngalamutas.com
![]()







