KOTA MALANG, NGALAMUTAS.COM – Ruang Mitra Perempuan (Rumpun) menggelar dialog strategis bertajuk “Kepemimpinan Perempuan Muda untuk Advokasi Hak Kesehatan Mental Berbasis Sekolah dan Komunitas” di Amphitheater 2, Malang Creative Center (MCC), Sabtu (4/4/2026).
Acara ini menjadi momentum krusial dalam memperkuat peran remaja perempuan sebagai agen perubahan (agent of change), sekaligus mempertegas pentingnya sistem pendukung kesehatan mental di lingkungan pendidikan dan sosial.
Hadir secara langsung, Duta Besar Irlandia untuk Indonesia, Sharon Lennon, memberikan apresiasi tinggi terhadap konsistensi Rumpun dalam memberdayakan perempuan muda. Dalam pidatonya, Lennon menekankan bahwa investasi terbaik bagi masa depan sebuah bangsa adalah melalui pendidikan perempuan.
”Pendidikan pada perempuan muda itu sangat penting. Kelak mereka akan menjadi ibu yang mendidik anak-anaknya dan membawa perubahan bagi generasi berikutnya,” ujar Lennon di hadapan para peserta.
Lennon juga menyoroti peran laki-laki dalam isu ini. Menurutnya, penguatan remaja perempuan memerlukan ekosistem yang inklusif.
“Saya mengapresiasi laki-laki yang hadir hari ini. Penguatan remaja perempuan butuh dukungan laki-laki, karena pada intinya, semua ini bermuara pada masalah kesehatan masyarakat secara luas,” tegasnya.
Wakil Bupati Malang, Dra. Hj. Latifah Shohib, menyatakan bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang berkomitmen penuh untuk mengadopsi dan mendukung keberlanjutan program semacam ini melalui perangkat daerah terkait.
”Pemkab Malang berkomitmen terus mendorong program yang mendukung kesehatan mental dan pemberdayaan remaja perempuan agar mereka mampu menjadi agen perubahan di lingkungannya,” kata Latifah.
Ia juga menambahkan bahwa kolaborasi internasional dengan Kedutaan Irlandia adalah bukti nyata bahwa sinergi lintas sektor mampu menciptakan dampak nyata.
“Anak-anak kita tidak hanya belajar bersuara, tetapi juga belajar memahami dan berempati,” tambahnya.
Direktur Pelaksana Rumpun, Nila Wardani, menjelaskan bahwa program ini menitikberatkan pada model Konseling Sebaya (Peer Counseling). Menurutnya, remaja cenderung lebih terbuka untuk bercerita kepada teman sebayanya dibandingkan kepada orang dewasa.
”Konseling sebaya ini sangat efektif sebagai alarm deteksi dini untuk mencegah isu kesehatan mental yang lebih fatal,” jelas Nila.
Ia juga menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan tahun ketiga dari Kedutaan Irlandia dalam memperkuat Kelompok Puan Muda (KPM) dan Serumpun Muda.
Dampak nyata program ini dirasakan langsung oleh para siswi yang tergabung dalam KPM dan Serumpun Muda.
Saskia (SMPN 1 Karangploso) mengaku kini lebih percaya diri.
“Dulu saya tidak berani bersuara atau berpendapat. Sekarang, kami belajar menjadi pendengar yang baik saat teman membutuhkan tempat berbagi.”
Nadifa (SMAN 7 Kota Malang) menyoroti pentingnya pembekalan konselor sebaya yang jarang didapatkan di kurikulum sekolah formal. Ia berharap pemerintah lebih banyak melibatkan kelompok perempuan muda dalam kegiatan pemberdayaan.
Sedangkan Abel (SMAN 1 Singosari) mengatakan melalui pembekalan Peer Buddy dari Tim Indonesia Sehat Jiwa, ia merasa program ini memperluas relasi dan menciptakan ruang sadar untuk saling menginspirasi.
Dialog ini juga dihadiri oleh perwakilan camat, kepala desa, kepala sekolah mitra, serta Ibu Sophia selaku Ketua Tim Indonesia Sehat Jiwa. Acara ditutup dengan komitmen bersama untuk memastikan ruang aman bagi kesehatan mental remaja tetap terjaga di Malang Raya.
(KIM)
![]()







