Menjaga Identitas Kota: Harapan Ping Pradhana Agar Pemerintah Daerah Fasilitasi Ruang Ekspresi Musisi.

- Redaksi

Jumat, 9 Januari 2026 - 06:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KOTA MALANG (JATIM), NGALAMUTAS.COM – Di balik hingar-bingar industri musik modern, terselip kisah dedikasi yang mengakar kuat pada nilai-nilai ketulusan dan sejarah. Ping Pradhana, musisi veteran yang telah meniti karier sejak tahun 1975, membagikan refleksi mendalam mengenai filosofi bermusik, tantangan zaman dulu, hingga pentingnya peran pemerintah dalam menjaga ekosistem seni lokal.


​Perjalanan musik Ping dimulai sejak bangku Sekolah Dasar. Ia tidak tumbuh secara otodidak semata, melainkan ditempa oleh tangan dingin almarhum Pak Salam Salim, sosok yang ia juluki sebagai “pujangga” musik Malang.

​”Beliau adalah guru khusus saya. Rumahnya di belakang Kartika Prince menjadi saksi bisu awal proses belajar saya,” kenang Ping, sela-sela latihan di Rumah Makan (RM) Kertanegara, bascame mereka, Jumat (09/01/2026).

Selain Pak Salam, ia menyebut tokoh seperti Bapaknya Yuda dan Pak Azis Kidul Pasar sebagai pilar utama yang membentuk ekosistem musik di Malang pada masa itu.

​Bagi Ping, instrumen musik hanyalah benda mati hingga sentuhan perasaan menghidupkannya. Ia menekankan bahwa perbedaan mendasar antara musisi dan pekerjaan rutin lainnya terletak pada penghayatan.

​Menurutnya, kesedihan atau himpitan ekonomi bukan penghalang, melainkan bahan bakar untuk melahirkan karya yang agung.

“Kunci sukses itu hanya satu: Kemauan,” tegasnya.

Ia percaya bahwa rezeki akan mengikuti kualitas permainan yang maksimal.

​Bergabung dalam Malang Legend Band, Ping menekankan bahwa kualitas teknis tidak akan berarti tanpa Chemistry. Baginya, kecocokan antar pemain tidak bisa dibangun secara instan di atas panggung, melainkan melalui interaksi personal seperti ngopi dan hobi bersama.

​Ia juga memberikan apresiasi tinggi kepada rekan sejawatnya seperti Edy Pramono dan Hari Konco, yang ia sebut sebagai musisi senior dengan kualitas dan konsistensi yang tetap terjaga hingga kini.

​Sebagai pelaku sejarah musik Malang, Ping Pradhana menitipkan harapan besar kepada Pemerintah Daerah agar lebih peka terhadap ruang berekspresi para musisi lokal.

Pemerintah diharapkannya tidak hanya memberikan izin keramaian, tetapi juga aktif menyediakan panggung atau venue publik yang layak bagi musisi lintas generasi untuk menunjukkan bakatnya.

Mengingat banyaknya musisi legendaris asal Malang, ia berharap pemerintah daerah mendokumentasikan atau mengapresiasi sejarah musik lokal agar tidak hilang ditelan zaman.

Ping berharap ada regulasi yang lebih memihak pada pemberdayaan musisi lokal dalam acara-acara resmi daerah, sehingga musisi lokal menjadi tuan rumah di kotanya sendiri.

Mengenang sulitnya mencari peralatan di masa lalu (hingga harus merebus senar bass), ia berharap pemerintah bisa memfasilitasi pusat latihan atau bantuan sarana bagi bibit-bibit musisi muda yang terkendala biaya.

​”Musik adalah identitas sebuah kota. Kami berharap pemerintah daerah melihat musisi bukan sekadar penghibur, tapi sebagai aset budaya yang perlu dijaga keberlangsungannya melalui fasilitas dan apresiasi yang nyata,” pungkas Ping.

(KIM)

Ngalamutas.com

Loading

Berita Terkait

Kebakaran Melanda Instalasi Gizi RSSA Malang: Tak Ada Korban Jiwa, Layanan Pasien Tetap Terjamin
Musibah di Tengah Karnaval: Sebuah Penantian yang Tak Berujung Pulang
Aktivis Blora Ultimatum SK Menteri ESDM soal Gunung Ungaran: “Stop Proyek Perusak Alam, Jangan Korbankan Gunung demi Energi!
Polda Jateng; Keselamatan Anak Tanggung Jawab Kita Bersama, Orang Tua Diminta Tingkatkan Pengawasan
Dugaan Penahanan Dana Calon Siswa Senilai Rp22,5 Juta Tanpa Layanan Pendidikan
Pastikan Tidak Membawa Senpi dan Barang Berbahaya, Saat Apel, Bid Propam Polda Jateng Cek Semua Personel Yang Layani Penyampaian Pendapat Di Tugu Muda
Breaking News. Kebakaran Besar Melanda Pabrik Bingkai di Perbatasan Jakarta Timur–Bekasi, Asap Pekat Membubung Tinggi
Gedung Bapenda DKI Jakarta Terbakar di Tengah Malam, 20 Unit Pemadam dan 100 Personel Dikerahkan

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 10:25 WIB

Kebakaran Melanda Instalasi Gizi RSSA Malang: Tak Ada Korban Jiwa, Layanan Pasien Tetap Terjamin

Minggu, 30 Agustus 2026 - 22:38 WIB

Musibah di Tengah Karnaval: Sebuah Penantian yang Tak Berujung Pulang

Minggu, 30 Agustus 2026 - 21:33 WIB

Aktivis Blora Ultimatum SK Menteri ESDM soal Gunung Ungaran: “Stop Proyek Perusak Alam, Jangan Korbankan Gunung demi Energi!

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 14:47 WIB

Polda Jateng; Keselamatan Anak Tanggung Jawab Kita Bersama, Orang Tua Diminta Tingkatkan Pengawasan

Rabu, 26 Agustus 2026 - 22:30 WIB

Dugaan Penahanan Dana Calon Siswa Senilai Rp22,5 Juta Tanpa Layanan Pendidikan

Rabu, 26 Agustus 2026 - 22:06 WIB

Pastikan Tidak Membawa Senpi dan Barang Berbahaya, Saat Apel, Bid Propam Polda Jateng Cek Semua Personel Yang Layani Penyampaian Pendapat Di Tugu Muda

Selasa, 11 Agustus 2026 - 21:10 WIB

Breaking News. Kebakaran Besar Melanda Pabrik Bingkai di Perbatasan Jakarta Timur–Bekasi, Asap Pekat Membubung Tinggi

Jumat, 7 Agustus 2026 - 17:22 WIB

Gedung Bapenda DKI Jakarta Terbakar di Tengah Malam, 20 Unit Pemadam dan 100 Personel Dikerahkan

Berita Terbaru